JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Serangan Israel ke Rafah pada Minggu (26/5), menuai kemarahan global.
Kota Rafah merupakan tempat yang dianggap aman warga Palestina dari serangan Israel.
Namun, setelah serangan itu terjadi, Rafah tidak menjadi tempat aman lagi. Hal ini membuat seluruh dunia marah terhadap apa yang dilakukan Israel di Rafah.
Peristiwa itu dilaporkan telah menewaskan puluhan warga sipil, termasuk dua pejabat tinggi Hamas, dan ratusan warga sipil terluka.
Foto dan video menyedihkan bermunculan di media sosial mengejutkan warga Internasional dan semakin menimbulkan kemarahan atas serangan Israel yang telah berjalan hampir delapan bulan di Jalur Gaza.
Rumah sakit yang digunakan untuk perawatan warga Palestina pun ikut di serang hingga sebagian besar bagiannya telah hancur.
Israel mendapat kecaman dari seluruh dunia setelah aksinya yang menyerang kamp pengungsian warga Palestina di Rafah, Gaza Selatan.
Kantor media Gaza menyebutkan dalam serangannya ke Tel al-Sultan, Israel menggunakan rudal dan bom dengan berat 2.000 pon atau 907 kg, dikutip dari laporan kantor berita Anadolu.
Sami Abu Zuhri, pejabat senior Hamas, menyebut bahwa serangan yang dilakukan Israel ke Rafah ini sudah sebagai “pembantaian”.
Dia juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas kejadian ini karena negara tersebut menyumbang Israel dengan persenjataan dan uang, yang sama saja membantu Israel melakukan pembantaian terhadap warga Palestina.
Kepresidenan Otoritas Palestina menyebutkan, Israel melakukan hal itu dengan sengaja menargetkan tenda-tenda yang digunakan oleh warga Palestina.
Dan juga mengatakan bahwa tindakan keji yang telah dilakukan oleh pasukan Israel ini adalah sebuah tantangan terhadap semua resolusi legitimasi internasional.
Begitu pula dengan Kementerian Luar Negeri yang turut menyebutkan, IDF dengan sengaja melakukan itu dan menargetkan warga sipil.
Dia juga memintal Israel untuk menindaklanjuti apa yang diperintahkan oleh Mahkamah Internasional tentang segera melakukan operasi militer di Rafah.
Serangan tersebut juga memicu kemarahan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan mengatakan, operasi militer tersebut harus dihentikan.
Karena sudah tidak ada wilayah aman bagi warga Palestina di Rafah. Dan dia menyerukan penghormatan penuh kepada hukum internasional dan segera melakukan gencatan senjata.
Namun, walaupun Mahkamah Internasional memerintahkan pasukan Israel untuk berhenti melakukan serangannya, Israel meluncurkan serangannya ke kota tersebut.
Tak hanya Presiden Prancis, peristiwa tersebut juga menimbulkan kemarahan Menteri Luar Negeri Irlandia, Michael Martin.
Dia mengutuk serangan keji tersebut diucapkannya selama konferensi pers yang berlangsung di Brussels.
Menteri Luar Negeri, Jose Manuel Albares pun ikut angkat suara dan mendesak negara-negara Eropa lain untuk segera mengambil tindakan apabila Israel tetap terus tak menghiraukan perintah Mahkamah Internasional. (Firza Aulia)
Editor : Imron Arlado