Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perilaku Konsumtif Siswi di Lingkungan MTs 2 Nurul Islam Terhadap Konsumsi Keripik Bantet

Fendy Hermansyah • Rabu, 22 April 2026 | 04:26 WIB
Oleh: Madinatuz Zahra An Nabila, Firly Audea Reransyah, dan Bunga Faridatul Toyyibah, Kelas 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto.
Oleh: Madinatuz Zahra An Nabila, Firly Audea Reransyah, dan Bunga Faridatul Toyyibah, Kelas 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto.

Oleh: Madinatuz Zahra An Nabila, Firly Audea Reransyah, dan Bunga Faridatul Toyyibah 

Kelas 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto

Pembimbing: Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd

KONSUMSI adalah kegiatan menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Konsumsi menjadi bagian penting dalam sistem ekonomi karena melibatkan produsen sebagai pembuat barang dan konsumen sebagai pengguna. Di masyarakat Indonesia, banyak individu menunjukkan perilaku konsumtif, salah satunya disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengelola kebutuhan. Namun, di sisi lain, konsumsi juga dapat membantu perputaran ekonomi di lingkungan sekitar.

Konsumsi yang dilakukan oleh santriwati Nurul Islam 2 termasuk jenis konsumsi langsung, yaitu menggunakan barang atau jasa tanpa melalui proses pengolahan kembali, seperti langsung mengonsumsi makanan atau menggunakan produk. Faktor yang memengaruhi konsumsi santriwati antara lain selera dan preferensi. Pilihan terhadap barang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, budaya, dan pengalaman pribadi masing-masing individu.

Keripik bantet merupakan camilan yang sangat disukai oleh para santri. Variannya cukup beragam, seperti bantet makaroni, kerupuk, basreng, spiral, dan keong, dengan tiga rasa utama yaitu original, pedas, dan ekstra pedas. Namun, yang paling diminati adalah rasa pedas. Keripik ini biasanya cepat habis terjual meskipun harganya sekitar Rp 5.000 per bungkus. Para santriwati menyukai keripik bantet karena rasanya enak dan menimbulkan rasa ketagihan, meskipun cukup pedas.

Penelitian sebelumnya juga membahas pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif siswa SMA di Bandung. Hasilnya menunjukkan bahwa literasi keuangan penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan membantu mengontrol perilaku konsumtif. Penelitian lain menjelaskan bahwa kontrol diri sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumtif. Seseorang yang memiliki kontrol diri yang baik cenderung tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan. Selain itu, faktor lingkungan, seperti keberadaan pusat perbelanjaan (mall), juga memengaruhi tingkat konsumsi.

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada makanan ringan yang disukai santriwati, yaitu makaroni. Makaroni merupakan makanan populer yang terbuat dari tepung terigu dan bahan lainnya, dengan berbagai bentuk dan mudah disajikan. Salah satu olahan yang banyak disukai adalah makaroni goreng, termasuk di daerah Mojokerto.

Kebutuhan dan keinginan manusia terus berkembang seiring waktu. Karena tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi sendiri, maka muncul berbagai usaha untuk memenuhinya. Dunia bisnis juga semakin berkembang dengan adanya persaingan dalam memasarkan produk kepada konsumen. Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, yang menjadi indikator penting dalam menilai perkembangan suatu wilayah.

Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku, motivasi, dan tindakan subjek secara mendalam dalam kondisi nyata. Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan beberapa siswi MTs 2 Nurul Islam sebagai narasumber.

Dari hasil wawancara diketahui bahwa uang saku harian siswi berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000, tergantung kebutuhan. Pengeluaran per hari juga bervariasi antara Rp10.000 hingga Rp 30.000, tergantung keinginan membeli jajanan. Para siswi berpendapat bahwa keripik bantet cocok dikonsumsi karena rasanya enak dan membuat ketagihan, namun tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti sakit perut, batuk, atau diare. Untuk varian rasa, sebagian besar lebih menyukai rasa pedas karena dianggap paling sesuai dengan selera.

Berdasarkan data yang diperoleh dari beberapa siswi seperti Naya, Lidia, Fani, Ira, Quinnsha, Meisa, Inayah, Lauwra, Zia, dan Ilma, seluruhnya membeli keripik bantet dengan harga yang sama yaitu Rp 5.000 per bungkus. Sebagian besar memilih varian rasa pedas, sementara beberapa lainnya memilih rasa original atau ekstra pedas. Hal ini menunjukkan bahwa rasa pedas menjadi pilihan utama di kalangan santriwati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswi lebih menyukai keripik bantet rasa pedas karena rasanya enak. Namun, konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti sakit perut. Selain itu, kebiasaan membeli jajanan juga dapat menimbulkan perilaku boros jika tidak dikontrol dengan baik, meskipun di sisi lain memberikan keuntungan bagi penjual karena meningkatnya penjualan.

Perilaku konsumtif dalam penelitian ini terlihat dari kebiasaan siswi yang gemar membelanjakan uang tanpa memproduksi sendiri. Konsumsi yang dilakukan termasuk dalam kategori konsumsi langsung. Kebiasaan ini dapat memberikan kepuasan, tetapi juga berisiko jika dilakukan secara berlebihan. Beberapa siswi mengurangi konsumsi karena ketersediaan barang yang tidak selalu ada di kantin, sehingga secara tidak langsung dapat menekan dampak negatif seperti gangguan kesehatan. Oleh karena itu, siswi perlu lebih bijak dalam mengelola uang saku agar dapat memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
#mts 2 nurul islam mojokerto #opini guru #radar mojokerto #opini siswa