Ketua Umum HIPMI Kota Mojokerto
SETIAP Hari Kartini datang, selalu mengingatkan pada sosok perempuan hebat yang memperjuangkan hak-hak perempuan di zamannya. ’’Jika direnungkan kembali, pertanyaan yang lebih relevan hari ini bukan lagi tentang apa yang Kartini perjuangkan dulu, melainkan apa yang bisa kita lanjutkan sekarang,’’ ungkap Ketua Umum HIPMI Kota Mojokerto Megawati Citra Alam.
Bagi Mega, sapaan karib Megawati Citra Alam, justru makna Kartini hari ini terasa jauh lebih sederhana, namun lebih dalam. ’’Yakni, berani menjadi diri sendiri,’’ imbuhnya. Sehingga di tengah kehidupan yang serbacepat, standar sosial yang tinggi, dan tekanan untuk ’’menjadi seperti orang lain’’, kadang justru yang paling sulit adalah jujur pada diri sendiri.
Menurutnya, perempuan sering merasa harus mengikuti pola tertentu. Di antaranya harus terlihat sukses di usia tertentu, harus mempunyai pencapaian tertentu, atau bahkan harus memenuhi ekspektasi lingkungan. ’’Padahal, setiap orang punya jalan hidup yang berbeda,’’ jelasnya. Dia menuturkan, Kartini dulu berjuang agar perempuan punya pilihan. ’’Dan hari ini, kita sebenarnya sudah punya itu,’’ ucapnya.
Di antaranya dapat bersekolah, bekerja, berbisnis, bahkan memimpin. ’’Namun, tantangannya perlahan mulai bergeser, apakah benar-benar menggunakan pilihan itu untuk menjadi diri sendiri, atau justru masih terjebak dalam bayang-bayang standar orang lain,’’ urainya.
Sebagai pengusaha muda, belakangan Mega banyak melihat perempuan-perempuan muda yang luar biasa. Mereka berani memulai usaha, berani mengambil risiko, dan berani keluar dari zona nyaman. ’’Namun, di balik itu, saya sendiri juga sering melihat keraguan, merasa belum cukup baik, belum cukup siap, atau takut tidak sesuai ekspektasi,’’ tandas Mega.
Padahal, tegas dia, keberanian itu bukan tentang tidak takut. Akan tetapi, keberanian adalah tetap melangkah, meskipun belum sempurna. Sehingga menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang. Justru sebaliknya, berkembang dari versi diri sendiri yang paling jujur. ’’Kita mengenali kekuatan kita, memahami keterbatasan kita, dan tetap bergerak maju dengan cara kita sendiri,’’ kata Mega.
Mega menambahkan, Hari Kartini seharusnya tidak hanya dirayakan dengan kebaya atau seremoni. Tapi, dengan refleksi kecil. Semisal apakah sudah memberi ruang untuk diri untuk tumbuh, atau sudah memberi ruang bagi perempuan lain untuk berkembang tanpa saling menghakimi.
Karena pada akhirnya semangat Kartini hari ini bukan lagi soal melawan keterbatasan zaman, melainkan tentang bagaimana tidak membatasi diri sendiri. ’’Jadi, menurut saya cara paling sederhana untuk merayakan Kartini saat ini adalah berani menjadi diri sendiri, dan terus melangkah. Pelan tidak apa-apa, yang penting tetap maju dan bergerak. Dan Selamat Hari Kartini kepada semua perempuan Indonesia,’’ pungkasnya. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah