HARI Kartini bagi kalangan dokter adalahmomen pengingat emansipasi dan kesetaraan gender, khususnya dalam peran perempuan di dunia kesehatan. Semangat Kartini dimaknai sebagai dorongan bagi perempuan untuk berdaya, sehat, mampu menjaga diri, serta memiliki keberanian untuk berjuang dalam bidang kesehatan.
Dokter spesialis penyakit dalam RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto Linda Febryana DPH, SpPD, FINASIM, M.Biomed mengatakan perempuan harus mempunyai strategi menjaga keseimbangan peran. Karena perempuan bekerja memerlukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Yang bisa dilakukan adalah menentukan fokus dan skala prioritas harian. Tentukan mana yang harus diselesaikan atau diutamakan saat itu. Target jangka pendek harian akan memudahkan semua berjalan dengan baik. Pembagian dan delegasi tugas dengan suami/pasangan, keluarga, dan ART.
Kemudian, quality time, walaupun singkat lebih baik daripada waktu panjang tapi tidak fokus. Lalu, me time, yakni memiliki waktu untuk diri sendiri agar tidak stres. Juga, komunikasi. Yakni, membicarakan permasalahan dengan pasangan. ’’Membuat batasan. Tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah jika tidak sangat mendesak,’’ ujarnya.
Menurutnya, pria dan wanita mempunyai hak dan dapat memperoleh jabatan yang setara. Yang menentukan adalah kualifikasi, keunggulan, dan kompetensinya, bukan gender sebagai pertimbangan utama. Peran Kartini era kini berfokus pada emansipasi melalui pemberdayaan diri, kesetaraan gender, dan penguasaan teknologi digital untuk berkarya, mandiri secara ekonomi, serta menjadi pemimpin di berbagai sektor.
’’Kartini modern adalah perempuan yang cerdas, produktif, mampu beradaptasi, dan memberi dampak positif, sambil tetap menjaga kodrat utama sebagai wanita. Selamat Hari Kartini 2026,’’ pungkasnya. (bas/fen)
Editor : Fendy Hermansyah