Ketua Komisi I DPRD Kota Mojokerto
KETUA Komisi I DPRD Kota Mojokerto Dra. Hj. Enny Rahmawati, M.Si, menjadikan Hari Kartini sebagai refleksi perjuangan emansipasi dan pendidikan perempuan tanpa melupakan fitrah. Enny memaknai Raden Ajeng (RA) Kartini sebagai pahlawan emansipasi, karena sifatnya yang cerdas, pemberani, tangguh, religius, sederhana, dan peduli sosial.
Emansipasi yang diperjuangkannya adalah upaya mendapat perlakuan adil, bukan menuntut kesamaan mutlak. ”Adil berarti hak yang sama tanpa diskriminasi di bidang sosial, pendidikan, dan politik, dengan tetap mengingat bahwa perempuan memiliki kodrat yang berbeda dengan laki-laki,” tutur politisi PKB, itu.
Menurut Enny, semangat Kartini sejalan dengan ajaran Islam. Alquran mengangkat derajat perempuan, seperti dalam QS. An-Nisa ayat 124 yang menegaskan kesetaraan pahala bagi laki-laki dan perempuan yang beriman dan beramal saleh. Begitu pula dalam ranah sosial dan politik amar makruf, sebagaimana QS. At-Taubah ayat 71. Dalam Islam, lanjutnya, perempuan memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu.
”Tholabul ilmi faridhotan ala kulli muslimin,” hadis riwayat Ibnu Majah. Artinya, mewajibkan mencari ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan. ”Tak heran jika kini banyak perempuan menduduki posisi pimpinan sesuai kompetensi dan pendidikannya,” ungkapnya.
Enny melanjutkan, emansipasi juga mencakup hak ekonomi dan ranah publik. Perempuan berhak penuh atas hartanya dan boleh berkontribusi di ruang publik, termasuk politik dengan kuota 30 persen keterwakilan, selama tetap menjaga syariat dan marwahnya.
Namun, emansipasi Islam tidak menuntut kesamaan mutlak dengan laki-laki, melainkan keadilan sesuai fitrah dan peran masing-masing. Peran perempuan sebagai pendidik utama anak, dari mengandung, menyusui, hingga mendidik, adalah peran mulia yang tak bisa digantikan.
Karena itu, bagi Enny, bentuk emansipasi utama yang digelorakan Kartini adalah pendidikan. Pendidikan perempuan yang bersifat strategis, bukan sekadar untuk individu, tapi untuk membangun peradaban dan mencetak generasi penerus. Dengan ilmu dan akhlak, menurut dia, perempuan akan menjalankan hidup sesuai budi pekerti.
”Momentum Hari Kartini ini menjadi ajakan untuk menggelorakan semangatnya: perempuan harus berilmu, berakhlak, dan tetap berpegang pada fitrahnya. Jika seluruh perempuan Indonesia bergerak dengan semangat yang sama, maka Indonesia Emas bukan hal yang sulit dicapai,” jelasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah