Oleh: Abdurrohman Alfaruq, Daffa Zain Ramadhani, Fyno Yogi Pratama, Muhammad Adzam Muzacky, Mukhamad Fahmi Murtadho, dan Syahdan Malik Abyaz dari 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto
Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd
PESANTREN merupakan lembaga pendidikan klasik yang sejak dulu berfokus pada pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin). Dahulu, pesantren sering dipandang hanya sebagai tempat belajar agama atau “mondok hanya untuk ngaji”, sehingga kurang dibandingkan dengan ilmu sains. Namun, di era modern seperti sekarang, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dibutuhkan untuk mengikuti perkembangan zaman.
Oleh karena itu, pesantren perlu menyeimbangkan dan memadukan antara ilmu agama dan sains agar tetap eksis, bermartabat, tidak tertinggal, serta mampu bersaing secara global tanpa kehilangan nilai-nilai keislamannya. Dengan demikian, pesantren dapat mencetak generasi yang ahli agama sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu santri yang kuat secara intelektual dan spiritual.
Strategi pesantren di era modern dilakukan dengan mengintegrasikan keilmuan. Integrasi ini tidak hanya sekadar menggabungkan ilmu sains ke dalam pelajaran agama, tetapi juga menyatukan cara pandang bahwa keduanya sama-sama penting untuk dipelajari. Di Pondok Pesantren Nurul Islam, salah satu bentuk nyata dari strategi ini adalah adanya program expert class sebagai wadah pembelajaran yang terintegrasi dengan ilmu umum atau sains. Program ini terdiri dari tujuh kelas di setiap jenjang pendidikan, baik SLTP maupun SLTA, yaitu International Class Program, Bilingual Class, Kutubut Turots Islami, Dirosah Islami, Tahfidzul Qur’an, Math and Science Class, dan Social Class. Program-program tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan santri sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
Beberapa program expert class sudah terintegrasi dengan sains, seperti International Class Program yang mengembangkan kemampuan tiga bahasa (Inggris, Arab, dan Indonesia) serta mempelajari matematika dan IPA dengan pengantar bahasa tersebut. Bilingual Class berfokus pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Social Class membahas penelitian sosial seperti ekonomi, sejarah, geografi, dan sosiologi. Math and Science Class berfokus pada pemahaman dan penelitian di bidang matematika dan sains. Program-program ini menjadi sarana bagi santri untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya.
Selain itu, untuk menunjang keterampilan santri, pesantren juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti laboratorium IPA untuk eksperimen, perpustakaan untuk menambah wawasan, laboratorium komputer untuk literasi teknologi, serta laboratorium bahasa untuk memperluas pengetahuan global. Pondok Pesantren Nurul Islam juga terus meningkatkan sarana dan prasarana seperti gedung, ruang kelas, dan alat peraga digital agar proses pembelajaran semakin maksimal.
Dalam hal tenaga pendidik, Pondok Pesantren Nurul Islam berupaya menghadirkan asatidz dan asatidzah yang mampu menguasai ilmu agama sekaligus sains. Para pendidik terus dibimbing agar menjadi tenaga profesional. Hal ini sejalan dengan tujuan pengasuh dan pendiri pesantren, yaitu Dr. K.H. Ahmad Siddiq, S.E., M.M., yang menginginkan santri unggul dalam segala aspek dan mampu melanjutkan peran dalam membangun kembali kejayaan Islam melalui ilmu dan akhlak. Prinsip yang ditekankan adalah berilmu amaliah, beramal ilmiah, dan berakhlakul karimah dengan landasan Ahlussunnah wal Jama’ah. Selain itu, menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat, merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagai bekal kehidupan.
Di Pondok Pesantren Nurul Islam, waktu belajar santri juga diatur dengan baik agar tetap seimbang. Pada pagi hari, santri mempelajari ilmu umum dan mengikuti program expert class, sedangkan pada siang dan sore hari mereka mempelajari kitab-kitab klasik seperti fiqh, nahwu, shorof, tauhid, akhlak, tajwid, dan hadis. Pengaturan ini bertujuan agar santri tidak kelelahan dan tetap fokus dalam belajar.
Dengan demikian, strategi Pondok Pesantren Nurul Islam dalam menyeimbangkan ilmu agama dan sains dilakukan melalui integrasi keilmuan, pembaruan pendidikan yang fleksibel, serta penguatan fasilitas dan tenaga pendidik. Sains dipandang sebagai sarana untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Upaya ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjawab tantangan global dan mengubahnya menjadi peluang. Hasilnya, pesantren dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya ahli dalam kitab kuning, tetapi juga kompeten dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tetap relevan di era modern dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. Seperti yang disampaikan oleh Dr. K.H. Ahmad Siddiq, S.E., M.M., “pemikiran yang tidak diikuti dengan perkembangan zaman maka yang terjadi adalah kehancuran.” (*)
Editor : Fendy Hermansyah