Oleh: Marentha Alivia Fitri dan Nailatul Izzahlitah
PEDAGANG bakso merupakan usaha yang menjual makanan berbahan dasar daging sapi yang digiling, kemudian dicampur dengan bumbu hingga terasa gurih dan enak. Adonan tersebut dibentuk bulat seperti bola, lalu disajikan dengan kuah kaldu sapi. Banyak pedagang bakso berjualan di sekitar pondok pesantren karena lokasi tersebut ramai oleh santri dan wali santri yang sering membeli. Terlebih saat waktu sambangan, jumlah pembeli semakin meningkat. Sehingga para pedagang bisa memperoleh keuntungan yang cukup besar setiap hari.
Keberadaan usaha bakso ini memberikan dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya adalah meningkatnya pendapatan pedagang, sehingga membantu perekonomian keluarga mereka. Namun, ada juga dampak negatif, yaitu masih ada pedagang yang kurang menjaga kebersihan lingkungan tempat berjualan.
Hal ini menyebabkan area sekitar menjadi kotor. Misalnya, karena cara mencuci peralatan yang kurang higienis. Oleh karena itu, menjaga kebersihan sangat penting bagi pedagang makanan agar lingkungan tetap sehat dan nyaman. Secara umum, usaha bakso di sekitar pondok pesantren ini cukup menjanjikan karena banyak konsumen yang tertarik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara pedagang bakso mengelola usahanya serta melihat dampaknya terhadap ekonomi keluarga. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, seperti memotivasi siswa untuk berwirausaha, memberikan pandangan bagi masyarakat dalam memilih usaha yang tepat, serta menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang cara menjalankan usaha dengan baik.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu metode yang bertujuan untuk memahami kondisi atau fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, motivasi, dan tindakan secara menyeluruh. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dengan seorang pedagang bakso di Desa Tunggal Pager, Pungging, Mojokerto, pada 19 Agustus 2025.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha bakso memberikan dampak ekonomi yang cukup baik bagi pedagang. Dari wawancara yang dilakukan, pedagang tersebut menyatakan bahwa penghasilannya lebih baik dibandingkan saat bekerja di pabrik. Usaha tersebut telah dijalankan sejak tahun 2013 dan lokasi paling ramai adalah di sekitar Pondok Pesantren (PP) Nurul Islam 1. Strategi yang dilakukan agar dagangan laris adalah dengan menjaga rasa bakso tetap enak serta memilih lokasi yang strategis.
Pedagang juga memilih berjualan bakso karena hasilnya lebih menguntungkan dibandingkan menjual makanan lain. Dalam sehari, biasanya pedagang mampu menjual sekitar 3 kilogram bakso dengan modal sekitar Rp 400 ribu.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa cara pedagang bakso dalam mengelola usahanya adalah dengan menjaga kualitas rasa agar memiliki ciri khas yang disukai pelanggan serta menetapkan harga yang terjangkau, sehingga menarik minat pembeli.
Dengan strategi tersebut, usaha bakso mampu memberikan dampak positif terhadap ekonomi keluarga. Seperti meningkatnya pendapatan setiap hari dan adanya perubahan ekonomi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Usaha ini juga sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga para pedagang. (*)
*) 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto
Pembimbing: Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd.
Editor : Fendy Hermansyah