Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jejak Mulia Atmaji Sapto Anggoro

Fendy Hermansyah • Kamis, 16 April 2026 | 13:37 WIB
 Atmaji Sapto Anggoro
Atmaji Sapto Anggoro

DALAM bahasa Jawa Sansekerta, Atmaji berarti jiwa mulia, unggul, dan memiliki harga diri yang tinggi. Sapto adalah tujuh, Anggoro selain bermakna Selasa juga semangat berapi. Nama yang tepat untuk menggambarkan sosok Atmaji Sapto Anggoro, figur penting dalam perkembangan media digital dan ekosistem internet di Indonesia.

Pria yang bakal menerima penghargaan dari PWI Jatim ini lahir pada 4 Oktober 1966 dan tumbuh di Jombang, Sapto, sapaan akrabnya, pernah menjadi Ketua Komisi Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Pers Dewan Pers periode 2022–2025, sebagai wakil unsur tokoh masyarakat.

Terpilihnya Sapto ini bukan hal yang mengherankan, mengingat sejak muda dia sudah mendedikasikan hidup untuk jurnalisme. Sejak SMP sudah aktif mengikuti dunia tulis menulis, dipercaya gurunya ikut lomba penulisan cerpen tingkat nasional. Meski tak menang tapi dia dipilih di sekolahnya, SMP Negeri 1 Jombang, sekolah unggulan terbaik di kotanya. Saat akhir SMA juga mengikuti lomba penulisan skenario nasional.

Di rumah, ayahnya yang tentara – tepatnya CPM– berlangganan koran Bhirawa dan majalah Gajah Mada, dan Sapto-lah yang melahap media-media tersebut. Kecanduan bacaan media dan bakatnya menulis itulah yang mengantarkan Sapto ke dunia jurnalistik.

Begitu lulus, gagal masuk Akabri, Sapto langsung fokus belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS). Pada tahun itu, 1985 adalah pilihan langka ke dunia jurnalistik, ketika ilmu komunikasi belum banyak ditoleh karena pamornya tak setenar ilmu hukum, teknik, arsitek, bahkan ekonomi.

Rupanya Sapto tak menunggu lulus untuk berkarir menjadi wartawan seperti impiannya. Tahun 1986, baru semester kedua sudah aktif menjadi wartawan freelance di berbagi media, lokal dan nasional, sebelum akhirnya aktif resmi mulai sebagai wartawan Surabaya Post. CUkup tiga tahun di Surabaya Post, Sapto pindah ke Jakarta 1990 untuk ikut memulai pendirian Berita Buana manajemen baru milik pengusaha Soetrisno Bachir. Lalu, 1993 pindah dan ikut bergabung memulai pendirian media baru digagasa oleh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pimpinan BJ Habibie, Republika. Di Republika selama tujuh tahun memberikan pengalaman liputan internasional sampai ke hampir semua negara ASEAN serta Piala Dunia 1994 dan Olimpiade Atlanta 1996.

Takdir kemudian menyeretnya untuk ikut mengembangkan inovasi media daring Detik.com pada 1998. Hal ini menempatkannya pada fase awal transformasi jurnalisme digital nasional. Media pertama yang fokus dan hanya mengembangkan media online, bukan bagian dari konglomerasi media cetak, radio, bahkan televisi.

Setelah 12 tahun di Detikcom, sebelum akhirnya diakuisisi Chairul Tanjung (CT Corp), Sapto berinovasi mendirikan Binokular pada 2009 sebagai layanan media monitoring, yang memaksanya mengikuti seluruh penerbitan media dari berbagai platform, cetak, televisi, online, dan media sosial. 

Di tengah mengembangkan usaha sendiri, dia bersama pemilik KapanLagi Network, diminta untuk membangun merdeka.com. Platform ini berkembang pesat dan menempati posisi strategis dalam jajaran portal berita berbahasa Indonesia di tahun pertama, sehingga mendapat investasi signifikan dari MediaCorp Singapore.

Tak puas dengan Merdeka.com, mengikuti keyakinan dan jiwa inventor (penciptaan gagasan),  Sapto mendirikan Tirto.id pada 2016 yang memperkaya lanskap media digital berbasis data dan analisis. Nama Tirto ini terilhami dari tokoh pers nasional Tirto Adisuryo. Diambilnya nama Tirto karena menginspirasinya dan senafas, dimana Tirto Adisuryo adalah pribumi pertama yang memiliki media, lainnya banyak dimiliki orang Belanda dan Tionghoa peranakan. Semangat Tirto adalah membangun media kritis untuk menguatkan perjuangan pribumi menghadapi panjajah. 

Tirto menjadi rumah bagi wartawan-wartawan muda yang percaya bahwa jurnalisme adalah jalan pencerahan masyarakat. Bagi Sapto, Tirto bukan sekadar jurnalisme tapi upaya untuk membangun new civilization (peradaban baru).

Kontribusi Sapto tidak hanya terbatas pada media, namun juga pada penguatan infrastruktur internet nasional. Ia tercatat sebagai anggota sekaligus pendiri Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), lembaga penting dalam pengelolaan domain nasional (.id registry). 

Sapto juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2012–2015. Posisi ini memperkuat keterlibatannya dalam pengembangan tata kelola dan industri internet di Indonesia. Seperti halnya PANDI yang mengelola domain, APJII adalah satu-satunya asosiasi yang mengelola alamat internet protokol  (IP Address) sebagai resource terbatas selain frekuensi.

Jejak panjangnya terukir juga dalam urusan pendidikan dan kebudayaan dengan mendirikan Padepokan ASA di Wedomartini, Yogyakarta. Inisiatif tersebut berfungsi sebagai ruang inkubasi dan jembatan bagi komunitas serta organisasi dalam memperluas dampak sosial. Langkah ini mencerminkan komitmennya dalam membangun konektivitas sosial yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi.

Puncaknya pada 2022, Sapto terpilih menjadi bagian dari Dewan Pers yang bertugas memastikan kredibilitas dan kualitas ekosistem pers di Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika digital. Perannya mempertegas kontribusinya dalam menjaga kualitas dan tata kelola pers nasional berbasis data serta verifikasi yang akuntabel.

Seperti namanya, Sapto meninggalkan jejak-jejak konsitensi dalam membangun jurnalisme modern sekaligus memperkuat fondasi internet nasional. Dari ruang redaksi hingga kebijakan pers, kontribusinya membentuk ekosistem informasi yang semakin terstruktur, adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
#atmaji sapto anggoro #wartawan senior #pendiri tirto.id #tokoh pers