Dulu Sampah, Sekarang Penyelamat: Biochar dan Revolusi Penangkap Karbon

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 05:47 WIB
KUMUH: Sejumlah pejalan kaki tampak menghindari tumpukan sampah yang meluber di trotoar Jalan Mojopahit, Kota Mojokerto, Selasa (7/4). (Sofan JPRM)
KUMUH: Sejumlah pejalan kaki tampak menghindari tumpukan sampah yang meluber di trotoar Jalan Mojopahit, Kota Mojokerto, Selasa (7/4). (Sofan JPRM)

 

Oleh: Very Megah Arasy dan Mohammad Akbar Dzikiriya Arosi

*)Universitas Pertahanan RI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, 11 April 2026.


BAYANGIN kita hidup di dunia yang lagi ”kebanyakan napas”, bukan napas manusia, tapi napas CO
. Setiap hari kita produksi, dari kendaraan, pabrik, listrik, bahkan dari aktivitas yang kelihatannya sepele. Masalahnya, CO itu nggak bisa kita tarik lagi kayak chat yang salah kirim. Nggak ada tombol ”unsend” di atmosfer. Nah, di tengah situasi seperti ini, muncul ide yang menarik sekaligus agak nyeleneh: 

”Gimana kalau kita punya sistem yang bisa nangkep CO, terus diam-diam ngubah dia jadi karbon padat yang stabil? Tanpa ribet, tanpa alat mahal, tanpa gaya-gayaan teknologi canggih yang cuma cocok di negara maju. Kedengarannya kayak mimpi? Tapi, ini lagi beneran dikembangin lewat biochar kaya elektron dalam sistem Carbon Capture and Storage (CCS) generasi baru.” 

Kita mulai dari biochar. Jangan bayangin sesuatu yang high-tech dulu, karena ini justru kebalikannya. Biochar itu lahir dari hal-hal yang sering kita anggap nggak penting: sekam padi, tempurung kelapa, limbah organik. Intinya, sesuatu yang biasanya dibuang. Terus ”dipanggang” tanpa oksigen alias (pirolisis), tapi kalau mau santai: dibakar tapi nggak kebakar. Hasilnya jadi material karbon yang berpori, luas permukaannya gede banget, dan jago nangkep gas. Jadi, awalnya biochar ini cuma kayak kos-kosan buat CO: masuk, tinggal, nggak bayar, yaudah disimpen. 

Tapi, manusia kan nggak pernah puas. Ilmuwan lihat biochar ini dan mikir, ”Masa cuma jadi tempat parkir doang?” Akhirnya di-upgrade-lah biochar ini. Dikasih nitrogen biar kaya elektron, sengaja dibuat ”cacat” strukturnya (ini lucu sih, biasanya cacat dihindari, di sini justru dicari), dan ditambah sedikit logam kayak besi. Tiba-tiba, biochar naik level. Dari yang tadinya cuma tempat penyimpanan, sekarang jadi ”reaktor kecil” yang aktif. Dia nggak cuma nangkep CO, tapi juga ngajak CO ”ngobrol”, terus diubah jadi bentuk lain. 

Prosesnya kalau dijelasin santai, kira-kira begini: CO masuk dulu ke dalam biochar, terus ”disuntik” elektron biar jadi lebih reaktif. Setelah itu diubah jadi karbon monoksida (CO), dan masuk ke tahap penting yang dikenal dengan Boudouard Reaction. Dari sini, CO dipecah dan akhirnya menghasilkan karbon padat. Jadi, alurnya itu bukan cuma nangkep, tapi juga mengolah dan menyimpan. Satu paket. Kayak beli nasi padang, udah dapet nasi, lauk, sambal, kerupuklengkap. 

Yang bikin makin menarik, katalis yang dipakai itu besi. Bukan logam mahal yang cuma ada di lab canggih. Besi itu murah, banyak, dan cukup efektif buat bantu reaksi berjalan lebih cepat dan lebih hemat energi. Jadi, teknologi ini punya potensi buat jadi solusi yang nggak cuma keren di jurnal ilmiah, tapi juga masuk akal buat dipakai di dunia nyata, terutama di negara kayak Indonesia yang kaya biomassa tapi tetap harus mikir biaya. 

Keunggulannya jelas: bahan bakunya murah karena dari limbah, prosesnya menggabungkan penangkapan dan konversi CO sekaligus, dan hasil akhirnya karbon padat yang lebih aman disimpan dibanding gas. Tapi, ya namanya juga teknologi yang lagi berkembang, masih ada PR. Energi yang dibutuhkan belum kecil, efisiensinya masih bisa ditingkatkan, dan kontrol pembentukan karbonnya belum sepenuhnya stabil. 

Jadi, ini bukan solusi instan yang besok langsung beres. Ini lebih kayak ”calon solusi besar” yang lagi dipoles. Nah, sekarang kita tarik ke konteks Indonesia. Kita ini negara yang kaya banget biomassadari pertanian, perkebunan, sampai limbah organik rumah tangga. Artinya, bahan baku biochar ada di mana-mana. Tinggal pertanyaannya: ada nggak dorongan dari atas supaya ini dikembangin serius? Di sinilah peran Prabowo Subianto sebagai Presiden RI jadi penting. Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun, kalau nggak didorong kebijakan, ya cuma jadi bahan seminar. 

Sebagai presiden, Bapak Prabowo Subianto punya posisi strategis buat bikin CCS jadi bukan sekadar wacana. Mulai dari membuka investasi besar di sektor penangkapan karbon, mendorong kerja sama internasional, sampai bikin regulasi yang bikin teknologi ini ”hidup” di industri. Dengan arah kebijakan yang jelas, Indonesia bahkan bisa jadi pusat penyimpanan karbon di kawasan. Dan yang lebih menarik, kalau pendekatannya nggak cuma top-down tapi juga melibatkan inovasi lokal seperti biochar, maka CCS nggak lagi jadi teknologi mahal yang eksklusif-tapi bisa jadi solusi yang dekat dengan masyarakat. 

Bayangin kalau limbah pertanian di desa bisa diolah jadi biochar, lalu dipakai untuk nangkep dan mengubah CO. Itu bukan cuma soal lingkungan, tapi juga ekonomi. Ada nilai tambah, ada lapangan kerja, ada teknologi yang tumbuh dari bawah. Jadi, bukan cuma ”menyelamatkan bumi”, tapi juga ”memberi makan manusia”. 

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim, satu hal menjadi semakin jelas: kita tidak bisa lagi hanya mengurangi emisi karbon, kita juga harus mulai ”membersihkan” apa yang sudah terlanjur ada di atmosfer. Karbon dioksida (CO), sebagai salah satu penyumbang utama pemanasan global, kini menjadi target berbagai inovasi teknologi di seluruh dunia. Namun, tantangannya bukan sekadar menangkap gas tersebut, melainkan bagaimana mengelolanya agar tidak kembali mencemari lingkungan. 

Di sinilah teknologi berbasis biomaterial mulai menunjukkan potensinya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana, bahkan dari limbah, teknologi ini menawarkan pendekatan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga relatif terjangkau. Bayangkan sebuah sistem yang mampu menangkap CO dari udara, lalu mengubahnya menjadi bentuk lain yang lebih stabil. Bukan sekadar menahan, tetapi benar-benar ”mengunci” karbon tersebut agar tidak kembali lepas ke atmosfer. 

Keunggulan pendekatan ini terletak pada efisiensinya. Dalam satu sistem, proses penangkapan dan konversi CO dapat terjadi secara bersamaan. Artinya, tidak perlu lagi dua tahap terpisah yang biasanya memakan biaya dan energi lebih besar. Hasil akhirnya pun bukan limbah baru, melainkan karbon padat yang stabil-bentuk yang jauh lebih aman untuk disimpan dalam jangka panjang, bahkan berpotensi dimanfaatkan kembali dalam berbagai bidang, mulai dari material konstruksi hingga teknologi energi. 

Namun, seperti banyak inovasi lainnya, teknologi ini belum sepenuhnya tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah kebutuhan energi untuk mengaktifkan reaksi yang memungkinkan perubahan CO menjadi karbon padat. Jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menimbulkan dilema baru: mengurangi emisi di satu sisi, tetapi menambah konsumsi energi di sisi lain. Selain itu, tingkat efisiensi proses konversi masih perlu ditingkatkan agar teknologi ini benar-benar layak diterapkan dalam skala besar. 

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah mengendalikan proses pembentukan karbon itu sendiri. Tanpa kontrol yang baik, hasil yang diperoleh bisa tidak konsisten, baik dari segi struktur maupun kualitas. Padahal, konsistensi ini menjadi kunci jika teknologi ingin digunakan secara luas di industri atau lingkungan perkotaan. 

Meski begitu, potensi yang ditawarkan tetap menjanjikan. Di tengah kebutuhan akan solusi yang cepat, murah, dan berkelanjutan, teknologi ini hadir sebagai salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan. Ia tidak hanya berbicara tentang inovasi, tetapi juga tentang bagaimana manusia mulai berdamai dengan dampak yang telah diciptakannya sendiri. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi seperti ini diperlukan, melainkan seberapa cepat kita bisa mengembangkannya dan menerapkannya secara nyata. Karena dalam perlombaan melawan perubahan iklim, waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kita daur ulang. 

Ke depan, teknologi ini membuka peluang pemanfaatan yang sangat luas di berbagai sektor. Tidak hanya terbatas pada skala laboratorium, pendekatan ini berpotensi diterapkan langsung di industri, terutama pada sistem pengolahan gas buang dan pembangkit listrik yang selama ini menjadi sumber utama emisi karbon. Dengan kemampuan untuk menangkap sekaligus mengubah karbon dioksida, teknologi ini juga dapat menjadi bagian dari strategi penyimpanan karbon jangka panjang yang lebih aman dan berkelanjutan. 

Menariknya, hasil akhir dari proses ini bukan sekadar limbah yang harus dibuang. Karbon padat yang dihasilkan justru memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku di berbagai industri. Mulai dari pembuatan carbon black yang digunakan dalam produk karet dan tinta, hingga pengembangan elektroda untuk teknologi energi dan material komposit yang semakin banyak digunakan dalam industri modern. 

Seiring berkembangnya riset di bidang material karbon dan katalisis, potensi teknologi ini semakin terbuka lebar. Inovasi seperti biochar yang dimodifikasi tidak lagi hanya dipandang sebagai alternatif, tetapi mulai dilirik sebagai salah satu solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi emisi, tetapi juga mengubah masalah menjadi peluang yang bernilai. (*)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
opini mahasiswa opini jawa pos radar mojokerto