Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kacabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto Pinky Hidayati, Dididik dari Kultur Pesantren, Tegaskan Pendidikan yang Berdampak

Farisma Romawan • Minggu, 1 Maret 2026 | 06:05 WIB

 

 

Pinky Hidayati, S.Psi., M.Psi, Kacabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto
Pinky Hidayati, S.Psi., M.Psi, Kacabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto

Berasal dari kultur pesantren tak menghalangi wanita 47 tahun ini berkarir di dunia pendidikan formal. Justru didikan dari kakeknya, KH. Anwar Mahfudz dan neneknya Nyai Abidah Ma’Shum Ali yang merupakan pengasuh pondok pesantren salafiyyah Seblak, Diwek, Jombang, Pinky Hidayati tumbuh dan besar dengan budaya belajar-mengajar. 

BAHKAN, cara pandang Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto ini terhadap pentingnya ilmu pengetahuan semakin terbentuk. Termasuk kecintaannya terhadap dunia pendidikan yang semakin mendalam yang tak lepas dari lingkungan pesantren yang mendidiknya.

’’Saya lahir dan besar di Jakarta dan dilanjutkan kuliah di Bandung, kemudian menikah dan tinggal di Bangkalan. Namun saya asli keturunan Jombang yang berasal dari Pondok Pesantren Salafiyyah Seblak, Diwek, Jombang. Kakek dan nenek saya adalah ulama yang peduli terhadap pendidikan khususnya mengangkat harkat dan martabat perempuan untuk belajar membaca dan menulis,’’ ungkapnya. 

Sejak kecil, Pinky mengaku lingkungan keluarganya memang kental dengan budaya belajar dan mengajar. Setiap percakapan di rumah selalu sarat dengan kisah-kisah tentang dunia pendidikan dari berbagai bidang keilmuan. Dari tradisi tersebut, ibu tiga anak ini lantas memberanikan diri menempuh pendidikan hingga jenjang S-2. Dimulai dari studi Psikologi di Universitas Padjadjaran dan dilanjutkan di Universitas Airlangga. 

Setiap perjalanan pendidikannya tidak sekadar memperkaya wawasan akademik. Tetapi juga mengukuhkan prinsip menjadi sosok pembelajar yang sejati. ’’orang yang terus belajar, perjalanannya tidak pernah berakhir,’’ tandasnya. Selain aktif di pendidikan formal, istri dari KH. Imron Abdul Fattah Bangkalan ini juga aktif di berbagai organisasi di yang mencerminkan komitmen terhadap dunia pendidikan, pemberdayaan perempuan, kebencanaan, dan olahraga. 

Mulai dari menjabat sebagai Wakil Ketua PP IPPNU tahun 2003-2006, berlanjut ke Fatayat NU, Muslimat NU Jatim, dan LPBI NU. Di bidang pengembangan masyarakat dan pesantren, Pinky turut memimpin pusat studi Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS) tahun 2011-2015. 

Untuk memperluas kontribusinya, perempuan kelahiran 20 Januari 1979 ini turut andil di dunia olahraga. Khususnya sepak bola dengan ikut terlibat dala  kepengurusan PSSI pusat, yakni sebagai anggota Komite Sepakbola Wanita dan manajer tim. ’’Tahun 2016 saya menjadi bagian dari FIFA Ad Hoc Committee yang bertugas menangani isu-isu dan masalah persepakbolaan Indonesia yang membutuhkan reformasi,’’ tambahnya.

Berbekal pengalaman tersebut, Pinky lantas berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi di dunia pendidikan dengan semangat, dedikasi, dan rasa tanggung jawab. Termasuk di Mojokerto yang diharapkan kualitasnya terus meningkat dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

Slogan utamanya, pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang memberi perubahan nyata pada murid, baik kompetensi, karakter, maupun masa depan. ’’Fokus utamanya, pembelajaran bermakna yang relevan dengan kehidupan nyata. Membentuk karakter kuat berbasis nilai profil pelajar pancasila dan kesiapan di masa depan,’’ pungkasnya. (far/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#cabdindik mojokerto #someone pinky hidayati #someone radar mojokerto #figur jawa pos radar mojokerto