Hari Ibu juga dimaknai sebagai pengingat jika perempuan punya kekuatan untuk membentuk karakter generasi masa depan. Sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.
’’Sebagai ibu, saya belajar tentang tulus, sabar, dan ikhlas. Sebagai perempuan yang juga berkarier, saya belajar tentang tanggung jawab, integritas, dan keberanian mengambil keputusan,’’ tegas Nalurita.
Menjadi perempuan tidak berarti harus memilih antara keluarga atau karier. Menurutnya, keduanya bisa berjalan beriringan dengan support system yang kuat (suami/keluarga), niat yang benar dan manajemen yang baik. Di lain sisi, perempuan perlu sadar bahwa perannya sangat strategis dalam membangun karakter anak dan menjaga nilai moral. ’’Sekaligus berperan aktif di masyarakat sebagai pemberdaya atau penggerak,’’ tuturnya.
Tak sekadar itu, perempuan masa kini perlu saling menguatkan. Menjalankan peran ganda sebagai ibu dan camat bukan jadi masalah lantaran diposisikan saling melengkapi, bukan saling bertentangan. ’’Kuncinya adalah kehadiran yang utuh saat bersama keluarga dan komitmen untuk bekerja dengan hati,’’ tandasnya.
Para ibu harus berbangga dengan perannya. Stop negativity dan stop melakukan mental block pada setiap upaya yang dilakukan. ’’Apa pun posisi kita, baik ibu rumah tangga, pekerja, pemimpin, atau pendidik, semua memiliki kontribusi besar bagi masa depan bangsa dan negara kita,’’ paparnya.
Mari terus belajar, berdaya, dan berkarya dengan kasih sayang dan ketulusan. Jadilah ibu yang menguatkan keluarga, perempuan yang menginspirasi lingkungan, dan teladan yang menumbuhkan harapan serta mengisnpirasi. ’’Selamat Hari Ibu, untuk semua perempuan hebat yang bekerja dalam diam, mencinta tanpa pamrih, dan mengabdi dengan sepenuh hati,’’ pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah