Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Kabupaten Mojokerto. Fauziyah, S.Pd, guru kelas V SDN Baureno, Kecamatan Jatirejo, berhasil lolos seleksi ketat dan terpilih sebagai salah satu dari 30 guru terbaik se-Indonesia dalam Pelatihan Integrasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) pada Pembelajaran STEM bagi Guru SD yang diselenggarakan oleh SEAMEO QITEP in Science (SEAQIS).
Kegiatan yang berlangsung di The Papandayan Hotel Bandung pada 11–15 November 2025 ini diikuti oleh para pendidik inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia. Dari sekitar 600 guru pendaftar jenjang SD, hanya 65 guru yang berhasil menembus seleksi esai dan wawancara, hingga akhirnya dipilih 30 guru terbaik untuk mengikuti pelatihan Internasional ini.
Salah satu alasan utama Fauziyah lolos seleksi, berkat inovasi media pembelajaran yang unik dan visioner. Yaitu, melalui program SHERA (Smart Heritage Majapahit Hybrid AR), sebuah media interaktif yang menggabungkan antara unsur budaya lokal Majapahit dengan teknologi modern. Seperti sensor, LED, dan augmented reality (AR).
’’Melalui SHERA, siswa dapat mengunjungi situs sejarah Majapahit secara virtual, mendengarkan narasi sejarah, serta mempelajari nilai-nilai budaya melalui pengalaman belajar berbasis teknologi,’’ katanya. Dia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena tak menyangka bisa sampai di tahap tersebut. ’’Program SEAMEO ini benar-benar membuka wawasan baru tentang bagaimana koding dan kecerdasan artifisial dapat diintegrasikan dalam pembelajaran berbasis budaya lokal. Saya ingin terus mengembangkan SHERA agar lebih interaktif dan bisa diterapkan di sekolah lain,” ujarnya.
Dalam foto yang diambil di ruang konferensi utama SEAQIS, tampak Fauziyah berdiri dengan latar belakang bendera negara-negara Asia Tenggara dan layar digital bertuliskan Dare to Innovate. Di tangannya, dia memegang dua perangkat micro:bit, hadiah pelatihan yang akan digunakan untuk mengembangkan pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and mathematics) terintegrasi dengan KKA di SDN Baureno.
Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pengalaman berharga dalam berinovasi dan berkolaborasi di tingkat nasional khususnya. ”Kami para peserta diajak langsung mempraktikkan koding menggunakan micro:bit dan menghubungkannya dengan proyek pembelajaran di sekolah. Ini pengalaman yang sangat berkesan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SDN Baureno Sutarti turut menyampaikan rasa bangga atas pencapaian yang diraih Fauziyah tersebut. ”Bu Fauziyah bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga menginspirasi guru lain di Mojokerto untuk terus berinovasi dan berani melangkah maju di dunia digital,” ujarnya.
Melalui prestasinya ini, Fauziyah menjadi simbol nyata guru transformatif abad ke-21 yang mampu memadukan teknologi dan budaya dalam pembelajaran bermakna. Keikutsertaannya dalam pelatihan SEAMEO QITEP in Science diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas penerapan pembelajaran STEM berbasis kearifan lokal di berbagai sekolah di Indonesia. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi