Sudah 10 tahun ini Riedy Prastowo berkutat di dunia sejarah dan kebudayaan. Baginya, Kabupaten Mojokerto yang erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit memiliki potensi budaya yang cukup besar. Baik berupa benda maupun nonbenda. Oleh karenanya, dia kini fokus melestarikan sekaligus memajukan kebudayaan di bumi Majapahit.
Sejak didapuk sebagai kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto pada tahun 2021, secara bertahap, ayah dua anak ini melahirkan gebrakan-gebrakan positif dalam aspek sejarah dan budaya.
Mulai dari pemecahan rekor MURI mengulek massal sambal wader sebanyak 1.035 layah di Majafest tahun 2022, hingga rekor MURI tari Bedoyo Putri Majasakti oleh 509 penari dalam Majafest tahun 2023. Termasuk closing ceremony dalam gelaran Porprov Jatim tahun 2024 di Stadion Gajah Mada Mojosari.
Di mana, Kabupaten Mojokerto berhasil mengerahkan lebih dari 1.000 pelajar SMA untuk menampilkan tari kolosal, pentas ujung, dan bantengan. ”Tari Bedoyo Putri Majasakti ini tarian baru khas Mojokerto karya guru tari dari Dawarblandong. Ini salah satu wujud kami dalam mewadahi karya pelaku budaya di Kabupaten Mojokerto,” ujar Riedy.
Di samping itu, pengembangan dan pembinaan kebudayaan tak luput dari konsentrasi alumni STPDN tahun 2006 ini. Setiap tahun disbudporapar rutin mengirimkan pelaku seni Kabupaten Mojokerto untuk tampil di anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Seperti, seni tari, pertunjukan ludruk, bantengan maupun ujung, yang secara bergiliran pentas di Ibu Kota. ”Setiap kali ada kegiatan mendatangkan tamu dari luar daerah, kita promosikan dengan menampilkan kesenian khas Kabupaten Mojokerto," jelas pria 43 tahun ini.
Setiap tahun Pemkab Mojokerto juga rutin melakukan ekskavasi penyelamatan cagar budaya. Sasarannya pun beragam. Mulai dari Situs Masahar atau Situs Gemekan, Bhre Kahuripan, Candi Wates Umpak, hingga Gapura Bajang Ratu. Perhatian pemkab dalam cagar budaya ini dibuktikan dengan pembentukan tim ahli cagar budaya (TACB) besutan disbudporapar pada tahun 2023.
Sejak saat itu, pemda sudah dua kali menetapkan cagar budaya tingkat kabupaten, dan kini ancang-ancang menggelar yang ketiga kalinya. ”Untuk cagar budaya, selain ekskavasi, kita upayakan rutin menetapkan cagar budaya tingkat kabupaten setiap tahun. Mengingat besarnya potensi cagar budaya di 18 kecamatan,” sebutnya.
Festival budaya yang dikemas kekinian seperti Majafest pun bakal dikemas dengan konsep yang lebih fresh. Tak lain merupakan hasil penyempurnaan tiga edisi yang digelar pada tahun 2021, 2022, dan 2023 lalu. "Kalau tidak ada halangan, tahun ini kita akan bikin festival yang konsepnya lebih meriah di wilayah Trowulan,” tandas mantan sekretaris Kelurahan Kauman, Kecamatan Mojosari, ini. (vad/ris)
Editor : Hendra Junaedi