’’Makna dari Kartini masa kini itu mampu membantu sesama. Minimal menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Keluarga, lingkungan, dan di manapun tempatnya’’
Secara harfiah kedudukan perempuan memiliki peran sentral dalam mengawal sebuah perubahan menjadi lebih maju, berkembang, dan diperhitungkan.
Baik di dalam lingkungan keluarga, aktivitas perpolitikan, hingga pemerintahan. Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Hj. Ayni Zuroh, SE, MM, justru tetap mengedepankan tiga hal yang sejalan dengan pemikiran Raden Ajeng (RA) Kartini.
Tak lain dengan menjaga sekaligus melestarikan nilai-nilai kebangsaan, kebudayaan, dan karya menuju masa depan.
SEPERTI sedang merawat ”tiga rumah” berbeda. Tugas dan aktivitasnya saat ini memang dituntut seirama mengiringi tanggung jawab yang dijalani dalam waktu bersamaan.
Sebagai ibu rumah tangga, pimpinan nomor satu di lembaga wakil rakyat, sekaligus nakhoda DPC PKB Kabupaten Mojokerto. ’’Tanggung jawabnya sama, semua wajib kita jalani. Justru di situlah peran strategis dari seorang perempuan,’’ tuturnya.
Dalam menjaga peran ganda, selama ini perempuan kelahiran Mojokerto, 28 Juli 1975 tersebut memegang tiga dasar kehidupan sebagai pedoman.
Pertama, tidak menanggalkan nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan para pendahulu. Terutama langkah perjuangan RA Kartini pada masa saat itu.
Menurut Ayni Zuroh, mengamalkan nilai kebangsaan sebagai perempuan masa kini harus diwujudkan dengan melalui kesetiaan dan loyalitas kepada bangsa.
’’Apa pun kondisinya, bagaimana pun keadaannya, loyalitas dan kesetiaan harus diperjuangkan. Kita hidup ini kan lahir dan menginjak bumi Indonesia, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengedepankan ajaran kebangsaan,’’ terang ibu tiga anak ini.
Perwujudan tersebut dapat dimulai dari sikap dan perilaku yang sederhana. Semisal, aware dengan lingkungan, dan memberikan manfaat sekecil apa pun.
’’Ada banyak yang bisa dilakukan oleh Kartini sekarang. Mulailah dari melakukan perilaku-perilaku positif bernilai sosial-kebangsaan. Di dalam keluarga, lingkungan kerja, dan di mana pun,’’ papar warga Dusun Soogo, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri ini.
Selama menjalankan tugas sebagai ketua DPRD, alumnus Magister Manajemen Universitas Airlangga Surabaya ini juga berkomitmen mengawal dan mewujudkan program-program pemerintah yang pro masyarakat.
Khususnya, di bidang perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan pembangunan.
’’Meski sebagai perempuan, di dalam kelembagaan kita dituntut mampu mengakomodir pandangan, usulan, dan sikap yang beragam dari para anggota. Di mana, goal-nya adalah bagaimana program pemerintah ini benar-benar untuk rakyat,’’ paparnya. (ris/fen)
Menjawab Tantangan Menjadi Peluang
LANGKAH kedua, dalam menjaga kebudayaan agar tak lekang oleh waktu, Ketua DPC PKB Kabupaten Mojokerto ini juga merealisasikan dalam bentuk yang relevan seiring perkembangan zaman.
Di antaranya, mengoptimalkan peran perempuan melalui tradisi dan budaya yang mempertahankan kearifan lokal. Salah satunya mendukung program kebudayaan berbasis warisan Majapahitan.
’’Yang terpenting sampaikan bagaimana ajaran dan nilai-nilai kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia, khususnya di Mojokerto.
Di situ, setidaknya kita bisa menjadi influencer budaya melalui media massa dan media sosial, agar Gen Z tidak lupa akan budaya yang luhur ini,’’ imbuhnya.
Tantangan ke depan lainnya bagi perempuan kekinian adalah pesatnya perkembangan dunia transformasi digital.
Menurut wanita yang genap berusia 50 tahun pada Juli mendatang ini, kemajuan zaman semestinya tidak dijadikan rintangan. Namun, sebaliknya harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk meraih masa depan.
Tentunya, dengan tetap menjadi perempuan mandiri, tak berhenti berinovasi, berkarya, dan ’’tahan’’ akan segala rintangan.
’’Jangan salah, membantu ekonomi keluarga itu salah satu upaya perjuangan perempuan lho. Meski sederhana, tapi asas manfaatnya sangat konkret,’’ beber pemilik zodiak Cancer ini.
Sejatinya, jiwa pejuang bagi keluarga dari perempuan-perempuan masa kini sudah sangat teruji saat badai Covid-19 melanda Indonesia. Di tengah keterbatasan aktivitas dan ancaman ekonomi global, mereka justru menjadi garda terdepan bagi keluarga.
Karya para perempuan itu diwujudkan melalui pendirian-pendirian usaha rumahan berskala kecil atau UMKM, namun mendatangkan nilai ekonomi dan mampu menghidupi keluarga.
’’Makanya, ke depan kami di DPRD ini akan terus mendorong pemerintah untuk mempermudah dan membuka selebar-lebarnya program kemandirian perempuan melalui UMKM. Baik dari sisi perizinan, permodalan, hingga fasilitasi usaha,’’ tukas Ayni Zuroh. (ris/fen)
Bermanfaat bagi Sesama
DI tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, Ayni Zuroh lantas mengajak semua perempuan di Mojokerto untuk tidak mudah patah arang.
Spirit Kartini dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui pemikiran gender dan feminitas adalah bukti bahwa perempuan Indonesia dapat menjadi pahlawan. Baik di dalam keluarga, lingkungan, dunia politik, hingga mewarnai pemerintahan.
’’Tidak perlu ndakik-ndakik, cukup dengan apa yang bisa kita lakukan dengan membantu orang di sekitar itu sudah sangat baik,’’ jelasnya. Sikap manusiawi tersebut tak lain untuk membangun sekaligus mengaplikasikan kepekaan sosial yang sekarang perlahan mulai luntur. ’’Itu yang sekarang menjadi tantangan kita bersama,’’ bebernya.
Sehingga, lanjut Ayni Zuroh, menaburkan benih-benih manfaat bagi sesama merupakan bagian dari prinsip yang ketiga selama menjalankan peran berbeda di ’’tiga rumah’’.
Ibu dalam ruang keluarga, pimpinan kelembagaan di DPRD, dan sebagai ketua partai politik di daerah. ’’Makna dari Kartini masa kini itu mampu membantu sesama. Minimal menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Keluarga, lingkungan, dan di manapun tempatnya,’’ pungkas Ayni Zuroh. (ris/fen)
Editor : Hendra Junaedi