Apresiasi yang diserahkan tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-95 di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, Sabtu (28/10) ini merupakan apresiasi atas inisiasinya membentuk Telusur Education Center.
DIDIT mengungkapkan, Telusur Education Center merupakan sebuah komunitas penggerak yang digawangi sejumlah anak muda. Awalnya, gerakan ini terbentuk setelah aksi kerja bakti untuk normalisasi Kali Telusur, Kelurahan Miji pada 1 September 2019 lalu.
Namun, kegiatan sosial ini terpaksa harus vakum akibat pandemi Covid-19. Baru pada Agustus 2022, Didit bersama para pemuda lainnya kembali menghidupkan Telusur Education Center dengan menyediakan fasilitas pendidikan non-formal berbasis alam.
’’Konsep pembelajaran di alam terbuka dengan memanfaatkan lahan di area Kali Telusur,’’ terangnya.
Dengan sasaran anak-anak dan remaja, kegiatan pembelajaran di Telusur Education Center dilakukan di luar jam sekolah. Dalam pelaksanaannya, Didit menggandeng sejumlah fasilitator dan tutor yang secara sukarela membagikan ilmu dan pengalamannya.
Karena itu, pendidikan alam yang menerapkan tiga kurikulum diberikan secara cuma-cuma alias gratis.
Dikatakan didit, penerapan kurikulum Telusur Education Center disesuaikan dengan sumber daya alam dan sarana prasarana yang ada di Kali Telusur.
’’Ketiga kurikulum tersebut kita standarkan dengan kurikulum di sekolah yang saat ini menerapkan kurikulum merdeka,’’ tandas pemuda 28 tahun ini.
Salah satunya adalah kurikulum life skill dan soft skill. Dalam kegiatannya, fasilitator memberikan pendampingan kepada anak-anak untuk belajar bersama dan mengembangkan literasi.
Selain itu, anak-anak juga diajak bermain permainan tradisional untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget.
Berikutnya juga terdapat kurikulum outbond dan kepemimpinan. Pada kegiatan pembelajaran ini, fasilitator atau tutor memberikan edukasi tentang kepemimpinan, pengolahan emosi dan ketangkasan pada anak maupun remaja.
'’Pada kurikulum kita mengajarkan bagaimana anak bisa belajar sambil melakukan learning by doing,’’ ulas Didit.
Sedangkan kurikulum ketiga adalah aksi lingkungan dan kewirausahaan. Yakni, dengan memberikan edukasi tentang penanaman, pembibitan, serta perawatan tanaman.
Tak hanya itu, tutor juga memberikan wawasan tentang pengelolaan sampah hingga pembekalan daur ulang sampah menjadi berbagai produk kreativitas.
’’Sehingga hasilnya bisa bernilai ekonomis dan dapat dijual untuk menjadi kegiatan kewirausahaan bagi anak-anak,’’ tandas finalis Gus dan Yuk Kota Mojokerto 2017 ini. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah