Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Camat Trowulan Kabupaten Mojokerto Mujiono, Wujudkan Masyarakat yang Ramah Wisatawan

Rizal Amrulloh • Jumat, 15 September 2023 | 14:23 WIB

Camat Trowulan Kabupaten Mojokerto Mujiono.
Camat Trowulan Kabupaten Mojokerto Mujiono.
HAMPIR dua tahun menakhodai Kecamatan Trowulan, Mujiono rutin turun langsung untuk memperkuat koordinasi ke desa-desa.

Langkah itu sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan kawasan yang masuk segitiga emas pariwisata di Kabupaten Mojokerto ini menjadi destinasi yang ramah dan nyaman bagi wisatawan.

Sambil bersepeda, setiap Jumat pagi, Camat Trowulan ini berkeliling untuk tilik desa. Di samping memotret pelayanan pemerintah dan program pembangunan, kegiatan safari Jumat ini juga untuk menguatkan koordinasi.

”Kalau dengan bersepeda kan kesannya santai, sehingga lebih cair saat berkomunikasi dengan kepala desa, tokoh masyarakat, maupun dengan warga,” terang Mujiono.

Sejak diamanahi menjadi Camat Trowulan sejak 21 Oktober 2021, Mujiono berupaya untuk menggandeng masyarakat untuk mensukseskan program-program Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

Di antaranya untuk mengoptimalkan potensi wisata yang berada di kawasan berstatus cagar budaya nasional ini.

Sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat dari Kerajaan Majapahit, tentu situs-situs cagar budaya menjadi daya tarik wisata utama di Kecamatan Trowulan.

”Dari 16 desa di Kecamatan Trowulan, hampir semuanya terdapat situs yang bisa dikunjungi dan dipelajari sejarahnya,” papar pria kelahiran Mojokerto 14 Mei 1969 ini.

Camat Trowulan Kabupaten Mojokerto, Mujiono bersama istri.
Camat Trowulan Kabupaten Mojokerto, Mujiono bersama istri.

Sebut saja di Desa Bejijong yang terdapat destinasi Candi Brahu, Vihara Majapahit atau patung Buddha Tidur, hingga situs Siti Inggil.

Selain itu, di Desa Trowulan juga terdapat situs Kolam Segaran, Pendapa Agung, dan Museum Trowulan alias Pusat Informasi Mojopahit (PIM).

Selain itu, di Desa Temon juga terdapat Candi Tikus dan Bajang Ratu. Demikian di Desa Watesumpak dengan Situs Candi Watesumpak yang baru dilakukan ekskavasi.

Tak kalah ramainya, di Desa Sentonorejo juga menjadi jujukan wisatawan di kompleks Makam Troloyo.

Belum lagi di Desa Pakis terdapat Sumber Panguripan yang tiap tahun digelar tradisi ruwatan sukerto.

Termasuk di Desa Panggih dengan Petilasan Raden Wijaya, Punden Jatisumber di Desa Jatisumber, dan Candi Wringin Lawang di Desa Jatipasar.

”Di desa-desa yang lain juga terdapat banyak situs tapi belum tergali,” bebernya.

Karena berada di lingkungan desa, tutur Mujiono, pihaknya mengajak pemerintah desa (pemdes) mewujudkan masyarakat yang ramah wisatawan untuk menciptakan Trowulan menjadi destinasi wisata yang nyaman.

”Kita menyiapkan masyarakat agar bisa memberikan kenangan wisata yang luar biasa para pengunjung,” ulasnya.

Terlebih, di Kecamatan Trowulan sudah ditunjang dengan keberadaan homestay. Tempat singgah bercorak Majapahitan itu tersebar sekitar 400 titik dan dibangun satu kompleks dengan rumah warga.

Sehingga, kata Mujiono, masyarakat harus bisa menjadi tuan rumah yang ramah dengan memberikan penyambutan yang terbaik bagi para wisatawan.

”Ketika masyarakat bisa memberikan pelayanan kepada pengunjung, tentu dampaknya luar biasa. Karena Trowulan tidak hanya dikunjungi wisatawan dari dalam negeri, tetapi juga banyak tamu dari mancanegara,” ulas ayah dua anak ini. (ram/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten #mojokerto #camat #mujiono #trowulan