Dari Ketapanrame Mojokerto hingga Candipuro Lumajang, Wisata Desa Bisa Menghidupi Warga
Desa wisata tidak lagi sekadar menawarkan panorama alam atau tempat berlibur. Di sejumlah daerah di Jawa Timur, wisata desa telah berkembang menjadi penggerak ekonomi yang hasilnya kembali kepada masyarakat. Dari membiayai beasiswa, memberikan insentif bagi guru ngaji, hingga memperkuat kegiatan sosial di tingkat desa, manfaat ekonomi wisata kini dirasakan secara nyata oleh warga.
FENDY HERMANSYAH, Surabaya
SENIN (6/7) lalu, rombongan Jawa Pos Radar Mojokerto yang dipimpin Direktur JPRM M. Nur Kholis didampingi Manajer Keuangan JPRM Niko Suseno Jaya, dan penulis beraudiensi dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di gedung Grahadi, Surabaya. Gubernur didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jatim Sherlita Ratna Dewi Agustin, Kepala Dinas Pemerdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jatim Budi Sarwoto, dan Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Pulung Chausar.
Audiensi itu diajukan dengan harapan Gubernur Khofifah berkenan hadir dalam seremoni Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 yang digelar JPRM pada Selasa (7/7). Penghargaan itu salah satunya menyasar Gubernur Khofifah yang berhasil menggerakkan konektivitas regional melalui transformasi transportasi publik. Yakni, melalui program bus Trans Jatim.
JPRM Award 2026 bertemakan Desa Kita Maju Bersama, mengangkat desa sebagai narasi utamanya. Saat audiensi itu pulalah Gubernur Khofifah menceritakan perihal program hingga desa-desa yang berhasil berdaya berkat pemberdayaan dari Pemprov Jatim. Salah satunya melalui penguatan desa wisata berbasis potensi lokal.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai keberhasilan sejumlah desa wisata membuktikan bahwa desa mampu membangun ekonomi secara mandiri apabila potensi yang dimiliki dikelola secara profesional dan melibatkan masyarakat.
’’Kita memiliki banyak contoh desa wisata yang berhasil. Yang penting bukan hanya ramai pengunjung, tetapi bagaimana manfaat ekonominya benar-benar kembali kepada masyarakat. Inilah yang ingin terus kita perbanyak di Jawa Timur,’’ ujar Khofifah.
Salah satu contoh yang kerap menjadi rujukan adalah Desa Ketapanrame di Kabupaten Mojokerto. Pengembangan wisata desa di kawasan lereng Gunung Penanggungan tersebut telah membuka lapangan kerja, menggerakkan usaha mikro, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Cerita serupa juga hadir di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Berbekal sumber mata air pegunungan yang jernih, desa setempat mengembangkan kawasan wisata pemandian yang kini menjadi destinasi favorit masyarakat. Pendapatan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk pengembangan wisata, tetapi juga membantu pembiayaan berbagai kegiatan sosial, mulai dari insentif guru mengaji, dukungan bagi takmir masjid, hingga kebutuhan masyarakat lainnya.
Di Kabupaten Tulungagung, desa wisata berkembang melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kawasan wisata yang memadukan panorama persawahan dengan kuliner lokal menjadi magnet baru bagi wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Menurut Khofifah, keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga kreativitas masyarakat dalam menciptakan pengalaman wisata yang unik, nyaman, dan berkelanjutan. Karena itu, Pemprov Jawa Timur melalui DPMD terus mendorong pendampingan pengelolaan desa wisata, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, promosi digital, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata desa.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, desa wisata bukan sekadar destinasi, tetapi instrumen pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menjaga budaya dan kelestarian lingkungan. ’’Dengan semakin banyak desa wisata yang tumbuh, manfaat pembangunan akan semakin dirasakan masyarakat. Desa menjadi kuat karena mampu mengelola potensi yang dimilikinya sendiri,’’ pungkas Khofifah. (*)
Editor : Fendy Hermansyah