Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Cerita Deny, Sopir Truk Gandeng yang Rela Antre BBM selama Dua Hari di Mojokerto

Moch. Chariris • Sabtu, 27 Juni 2026 | 06:14 WIB
STOK MENIPIS: Deny, sopir truk gandeng angkutan mi instan bercerita tentang keluh kesah sulitnya mendapatkan solar subsidi, di SPBU Jalan Raya Bypass Kota Mojokerto, Kelurahan Meri, Kecamatan Magersari, Kamis (25/6). (Chariris JPRM)
STOK MENIPIS: Deny, sopir truk gandeng angkutan mi instan bercerita tentang keluh kesah sulitnya mendapatkan solar subsidi, di SPBU Jalan Raya Bypass Kota Mojokerto, Kelurahan Meri, Kecamatan Magersari, Kamis (25/6). (Chariris JPRM)

Barcode Dipakai Orang Lain, DO Muatan Terancam Hangus

Beragam cerita dirasakan sopir truk angkutan barang. Di tengah kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, mereka justru dihadapkan dengan pengalaman pahit. Dari barcode pembelian solar dipakai orang lain, hingga delivery order (DO) terancam hangus. 

MOCHAMAD CHARIRIS, Kota 

PAGI itu, pria bertopi hitam mengenakan kaus oblong warna krem berjalan dengan wajah tampak lelah. Ia lalu menghampiri truk gandeng bernopol L 8272 UQ. Truk warna merah yang disopirinya tersebut diparkir di tepi Jalan Raya Bypass Kota Mojokerto usai menempuh perjalanan dari Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/6). 

Di belakangnya, mengular antrean truk angkutan barang lain hingga sepanjang kurang lebih 300 meter. Dengan kondisi rata-rata ruang kemudi kosong, ditinggal para sopir truk turun mencari tempat istirahat. Tapi, para sopir ini bukan sekadar untuk berhenti sejenak. Untuk mengisi perut dan menyeruput ngopi. 

Ini setelah sebelumnya mereka memang tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat stok solar di tangki truk menipis. Sehingga para sopir memutuskan memilih mengantre menunggu pengiriman solar dari depo Pertamina ke SPBU di Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, selama dua hari satu malam. 

Deny, 64, pria berkumis mengenakan topi hitam tersebut lantas memandang ke arah SPBU. Dalam hati kecilnya penuh harap, truk tangki Pertamina pengirim solar subsidi segera datang. ’’Petugas SPBU-nya bilang, solar masih kosong,’’ tutur pria asal Dusun Gempol Joyo, Desa/Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, ini.

’’Saya perjalanan dari Solo, Jawa Tengah, mau ke Manyar, Kabupaten Gresik, ambil muatan mi instan. Cuma selama di Mojokerto tidak dapat solar,’’ imbuh Deny yang sudah mengantre sejak Rabu (24/6) pagi.

Dengan menenteng sebotol air mineral, ia kemudian menunjukkan stok solar dalam tangki truk tanpa muatan itu dalam kondisi menipis. ’’Sudah menipis, ini 5 liter saja nggak ada,’’ jelasnya sembari memegang slang tangki.

Ia menceritakan, sebelum berhenti di SPBU Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, sepanjang perjalanan melintasi Jalan Raya Bypass Mojokerto menuju arah Surabaya, truk yang dikemudikan sempat belok ke beberapa SPBU. Akan tetapi, keinginannya untuk segera mendapatkan solar pun pupus. 

Selain gagal mengisi BBM, Deny juga dikejutkan dengan penjelasan seorang petugas salah satu SPBU. Saat menunjukkan kartu barcode My Pertamina pengisian solar subsidi, ia justru mendapati penjelasan petugas bahwa jatah pembelian solarnya sudah terpakai. Dengan jenis kendaraan serupa dan jumlah kuota pengisian yang sama. 

’’Kemarin kan sempat ngisi, katanya barcode sudah dipakai orang lain. Masak sopir bisa? Berarti kan ini ada permainan,’’ katanya dengan nada kesal. Namun, ia tidak mengetahui persis SPBU mana yang hampirinya kala itu. ’’Ndak tahu. Tahu-tahunya pas ngisi solar sudah ndak boleh, karena sudah dipakai orang lain,’’ tegasnya. 

Ia sempat berusaha memperjuangkan haknya dengan memberikan penjelasan, karena hari itu memang belum sekalipun memakai barcode di SPBU lain. Walau demikian, ikhtiarnya untuk meyakinkan petugas SPBU tetap kandas. ’’Lha, ini ulah siapa, masak sopir bisa begitu?,’’ imbuh Deny keheranan. 

Pengalaman pahit yang dialami mendorong dirinya untuk memilih pasrah dengan keadaan. Deny memutuskan menunggu sampai pengiriman solar di SPBU Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri disuplai kembali oleh Pertamina. ’’Maksimal sampai jam 9 malam. Kalau telat waktu pengiriman, DO kobong (hangus). Nggak bisa muat, kena klaim lagi,’’ tuturnya lirih.

Ia lantas menjelaskan, batas waktu pengambilan muatan barang berupa mi instan di kawasan Manyar, Kabupaten Gresik untuk selanjutnya dikirim ke wilayah Magelang, Jawa Tengah dibatasi maksimal hingga pukul 21.00 WIB. ’’Ya, lihat ini nanti, SPBU ada pengiriman solar tidak. Kalau tidak ad,a ya tidak bisa muat, otomatis DO-nya hangus,’’ tambahnya. 

Kondisi lain yang tak kalah memberatkan adalah membengkaknya biaya hidup selama perjalanan dan menunggu antrean solar. Uang saku makin menipis, sedangkan kebutuhan makan dan rokok tak bisa ditepis. Dengan demikian membuatnya semakin kelimpungan. Padahal, sedari awal keberangkatan dari Solo, ia memang sengaja tidak mengajak kernet untuk membantu, meski kendaraan yang dikemudikan jenis truk gandeng. Tak lain atas pertimbangan biaya operasional dan uang saku yang terbatas. ’’Truk sepanjang ini tanpa kernet, ya karena ongkosnya memang nggak cukup,’’ urainya. 

Atas kondisi tersebut, Deny berharap kepada pemerintah, khususnya Pertamina, segera menyikapi kelangkaan BBM subsidi. Agar para sopir angkutan barang dan masyarakat dapat bekerja dengan normal tanpa dibayangi kesulitan mendapatkan solar. ’’Harapannya, ya BBM lancar. Kasihan para sopir, dapatnya menipis,’’tandasnya. (fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#spbu kehabisan stok #bbm bersubsidi langka #cerita sopir truk #antrean spbu