Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Lintas Generasi Komunitas Ludruk Karya Budaya Mojokerto, Berpegang Pakem hingga Angkat Kritik Sosial

Sofan Kurniawan • Minggu, 31 Mei 2026 | 08:38 WIB
ADU AKTING: Cak Naswan beradu akting dengan Mbak Yanti (travesti) dalam fragmen lawakan saat peringatan Hari Jadi ke-57 Ludruk Karya Budaya di Pondok Jula-Juli, Ludruk Karya Budaya, Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (29/5) malam. (Fendy JPRM)
ADU AKTING: Cak Naswan beradu akting dengan Mbak Yanti (travesti) dalam fragmen lawakan saat peringatan Hari Jadi ke-57 Ludruk Karya Budaya di Pondok Jula-Juli, Ludruk Karya Budaya, Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (29/5) malam. (Fendy JPRM)

Suara gamelan terdengar ritmis pada Jumat (29/5) siang di Pondok Jula-Juli, markas Ludruk Karya Budaya di Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Lantunan kidung dan denting gamelan itu pernah menjadi denyut malam yang tak pernah benar-benar tidur. 

SOFAN KURNIAWAN, Jetis

DARI desa ke desa, Karya Budaya menghibur wong cilik dengan lawakan, cerita drama, hingga kritik sosial yang menggelitik. Sabtu (29/5), kelompok ludruk tersebut genap berusia 57 tahun. Bukan usia yang muda bagi sebuah kesenian rakyat yang telah melewati berbagai gelombang zaman: tekanan politik, perubahan sosial, hingga gempuran hiburan modern.

Di balik berdirinya Ludruk Karya Budaya pada 1969 terdapat sosok Kamari, seorang anggota kepolisian yang akrab disapa Cak Bantoe. Saat itu Indonesia baru saja melewati masa kelam pasca-peristiwa politik 1965. Ludruk ikut terseret dalam pusaran politik melalui keterkaitannya dengan Lekra. Seni pertunjukan rakyat ini sempat dicap sebagai corong komunis karena lakon-lakonnya yang dekat dengan kehidupan wong cilik dan sarat kritik sosial.

Pementasan ludruk praktis dibekukan. Banyak pemain ditangkap. Panggung-panggung yang sebelumnya ramai mendadak sunyi. Namun di tengah situasi penuh ketakutan itu, Cak Bantoe memilih menyalakan kembali bara kesenian rakyat. Dengan pangkat letnan satu dan bertugas di Polsek Jetis, ia mendirikan Ludruk Karya Budaya di bawah binaan kepolisian. Langkah itu menjadi jalan tengah agar ludruk dapat kembali pentas, meski tetap berada dalam pengawasan pemerintah.

Perlahan ludruk bangkit. Tanggapan berdatangan tanpa henti. Nama Karya Budaya mulai dikenal hingga berbagai daerah di Jawa Timur. ’’Zaman itu ludruk hidup sekali. Masyarakat haus hiburan sekaligus butuh suara yang mewakili kehidupan mereka,’’ kenang Sapari, salah satu anggota generasi awal Karya Budaya.

Kini, usia Sapari telah menginjak 83 tahun. Namun ingatannya tentang masa kejayaan ludruk masih begitu tajam. Ia masih mengingat bagaimana rombongan ludruk hampir setiap hari berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk memenuhi undangan pentas.

Setelah Cak Bantoe wafat pada 1993, tongkat kepemimpinan beralih kepada putranya, Eko Edi Susanto. Di tangan generasi kedua inilah Karya Budaya mengalami perubahan besar. Edi membawa sistem pengelolaan yang lebih modern. Jika sebelumnya seluruh keputusan diambil bersama dalam pola organisasi kolektif, perlahan berubah menjadi sistem majikan.

’’Kalau dulu semuanya diputuskan bersama, mulai manajemen sampai keuangan. Tapi setelah berubah jadi sistem majikan, Karya Budaya malah makin maju,’’ tutur Sapari.

SENI TRADISI: Seorang travesti bersenandung saat Uyon-Uyon Karya Budaya di Pondok Jula-Juli Ludruk Karya Budaya, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-57 Ludruk Karya Budaya di Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jumat (28/5). (Sofan JPRM)
SENI TRADISI: Seorang travesti bersenandung saat Uyon-Uyon Karya Budaya di Pondok Jula-Juli Ludruk Karya Budaya, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-57 Ludruk Karya Budaya di Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jumat (28/5). (Sofan JPRM)

 

Perubahan itu berdampak besar. Para pemain mulai merasakan kesejahteraan yang lebih baik. Jadwal pementasan nyaris tanpa jeda. ’’Kita main hampir tiap hari,’’ imbuhnya, mengenang masa ketika ludruk menjadi primadona hiburan rakyat.

Namun waktu tak pernah berhenti berjalan. Pada September 2024, Eko Edi Susanto wafat. Untuk ketiga kalinya, estafet kepemimpinan berpindah generasi. Kini Ludruk Karya Budaya dipimpin oleh Nizar Pravianto, putra Eko Edi Susanto.

Di tangan Nizar, Karya Budaya berusaha bertahan di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat. Bukan perkara mudah menjaga ludruk di era media sosial dan hiburan digital yang menawarkan tontonan serba instan.

Tetapi bagi Naswan, anggota generasi pertama yang kini berusia 82 tahun, ludruk bukan sekadar tontonan. ’’Ludruk itu penuh pesan dan syiar kepada masyarakat. Jangan sampai punah,’’ ujarnya tegas.

Ucapan Naswan bukan tanpa alasan. Hingga kini, Karya Budaya masih mempertahankan pakem lama yang mulai jarang ditemui di kelompok ludruk lain. Seluruh pemainnya tetap laki-laki. Tokoh perempuan diperankan oleh lelaki yang berdandan wanita atau dikenal dengan istilah travesti.

Pakem tersebut menjadi identitas sekaligus penanda Karya Budaya tetap teguh menjaga akar tradisi yang diwariskan para pendahulunya. Bagi Nizar, ludruk bukan sekadar warisan keluarga, melainkan ruang belajar kebudayaan rakyat Jawa Timur. ’’Karya Budaya harus tetap menjadi laboratorium ludruk di Jawa Timur. Kami akan terus merawat dan melestarikan seni tradisi ini sampai kapan pun,’’ tuturnya.

Bagi masyarakat Mojokerto dan sekitarnya, ludruk bukan hanya hiburan. Ia adalah cermin kehidupan rakyat kecil, ruang kritik sosial, sekaligus penanda identitas budaya yang terus bertahan melawan zaman. Dan selama gamelan masih ditabuh, kidungan masih dinyanyikan, serta dagelan masih mampu memantik tawa penonton, Ludruk Karya Budaya tampaknya memang belum benar-benar selesai bercerita. (fan/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#teater tradisional #sejarah ludruk #kesenian ludruk #ludruk karya budaya