Tidak Ada Trauma, Jemaat Justru Memberkati yang Memusuhi
Sudah lebih dari dua dekade berlalu sejak ledakan bom terjadi saat malam kebaktian Natal di salah satu gereja di Kota Mojokerto ini. Namun, hingga kini para jemaat Gereja Eben Haezer mengaku tidak pernah trauma. Justru ikatan batin ratusan jemaat terus terjalin dengan keluarga Riyanto, anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang rela mengorbankan nyawanya dalam insiden 24 Desember 2000 silam.
MARTDA VADETYA, Kota Mojokerto
LANTUNAN pujian umat Kristiani sayub terdengar dari gerbang pintu masuk gereja, kemarin (24/12) sore. Tidak banyak bangku yang terisi oleh jemaat saat itu. Memang, para pengurus gereja sedang mempersiapkan ibadah pada malam harinya. Namun, pohon dan dekorasi Natal telah terpasang rapi di altar gereja di Jalan Kartini, Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon ini.
”Untuk perayaan Natal sudah di tanggal 21 Desember. Dalam perayaan ada drama, pujian, persembahan dan sebagainya,” ungkap Yusuf Iwanto, Pelayan Gereja Eben Haezer. Hari ini (25/12), kata Yusuf, para jemaat bakal menggelar ibadah khusyuk Natal. Ia menjelaskan, soal keamanan dalam rangkaian ibadah Natal bertema The Joy of Victory, pengurus gereja terus berkoordinasi dengan pihak berwajib. ”Setiap Natal selalu ada penjagaan dari kepolisian. Karena kami selalu laporan ke Polres Mojokerto Kota,” jelas pria yang juga Worship Leader (WL) ini.
Meski begitu, sebanyak 400 jemaat gereja Eben Haezer mengaku tidak pernah trauma atas teror yang menewaskan seorang muslim tersebut. ”Tidak ada trauma. Karena kami umat Kristen mengutamakan kasih, tidak ada dendam. Justru kami harus memberkati yang memusuhi kita,” bebernya. Yusuf, yang pada 24 Desember 2000 silam tersebut mengikuti ibadah sebagai jemaat biasa, menceritakan, Riyanto punya peran besar dalam menyelamatkan nyawa jemaat gereja.
Selain memindahkan tas berisi bom dari dalam aula ke luar gereja, Riyanto rela mengorbankan nyawanya agar tidak ada korban jiwa lain dari teror tersebut. ”Waktu itu total ada dua bom. Satu di luar dan satu lagi di dalam tas ada yang membawa sebagai jemaat, dia duduk di kursi ke empat dari depan,” kenang warga Jalan Residen Site III, Perum Citra Surodinawan Estate (CSE), Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.
Dari situ, tidak berlebihan jika keluarga Riyanto mendapat perhatian khusus dari para jemaat. Pihak gereja Eben Haezer rutin memberi santunan pada keluarga Riyanto. Termasuk memberi beasiswa kepada adik pahlawan kemanusiaan itu hingga lulus kuliah. ”Dari kejadian itu kami sangat erat dengan Banser Kota Mojokerto. Banser juga ada (ikut mengamankan gereja tahun ini), mereka selalu aktif. Apalagi, terkait Riyanto ini,” tandas Yusuf.
Ketua PAC GP Ansor Prajurit Kulon Abdul Muid menambahkan, sosok Riyanto hingga kini dikenang sebagai pemuda pemberani yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan rela berkorban. Sebab, Riyanto mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan sesama tanpa memandang agama, suku, ras, maupun perbedaan lainnya. ”Semangat yang diwariskan Riyanto inilah yang harus terus kita perjuangkan untuk menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dan meneguhkan toleransi. Nilai tersebut harus hadir dalam setiap gerak, menjaga persaudaraan, dan merawat kebhinekaan di tengah masyarakat,” sebut Muid. (ris)
Editor : Fendy Hermansyah