Pakai Pupuk Antijamur hingga Pawang Hujan
Anomali cuaca yang terjadi satu bulan terakhir ini berpengaruh buruk pada sektor pertanian. Seperti halnya pertanian hortikultura di kawasan Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
SOFAN KURNIAWAN, Jetis
SUHERI, salah satu petani melon yang ditemui di ladang Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis pada Selasa (27/5), mengaku dirinya mengalami kerugian saat panen di tengah curah hujan yang cukup tinggi ini. Buah manis yang mengandung air tersebut banyak mengalami kebusukan dan dipenuhi jamur.
Akibatnya, begitu juga dengan harga, yang semula Rp 9 ribu per kilogram saat ini turun drastis menjadi Rp 5,5 ribu per kilogram. ’’Meski dengan kondisi seperti ini, permintaan pasar justru meningkat, tetapi kondisi hasil panen tidak maksimal,’’ ujar Heri.
Dirinya mengaku, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kualitas melon. Mulai dari menambah pupuk antijamur hingga memakai pawang hujan. Hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas buah melon sebelum dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Eko Prestiwanto, petugas penyuluh setempat, mengatakan bahwa untuk mengantisipasi gagal panen dan gagal tanam di tengah anomali cuaca saat ini, telah dilakukan penyuluhan terhadap petani. Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto menyarankan untuk memilih varietas tanaman yang tahan terhadap cuaca ekstrem.
Selain itu, khusus untuk tanaman melon, pihaknya menyarankan agar menggunakan ajir. Ajir digunakan agar buah melon menggantung dan tidak langsung menyentuh tanah. ’’Itu dapat mengurangi risiko tumbuhnya jamur buah dan membusuk,’’ ujarnya. (fan/fen)
Editor : Hendra Junaedi