Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Garap Soal sambil Momong, Incar Ijazah untuk Nyalon Kasun

Indah Oceananda • Senin, 28 April 2025 | 16:00 WIB
DEMI KELULUSAN: Lia Ratnasari, salah satu warga belajar UPT SKB Gedeg Mojokerto saat mengerjakan ujian pendidikan kesetaraan sambil menggendong buah hatinya. 
DEMI KELULUSAN: Lia Ratnasari, salah satu warga belajar UPT SKB Gedeg Mojokerto saat mengerjakan ujian pendidikan kesetaraan sambil menggendong buah hatinya. 

Cerita Warga Belajar SKB Gedeg saat Kerjakan Ujian Kelulusan

Semangat menuntut ilmu tersirat dalam raut wajah para warga belajar saat mengerjakan soal ujian pendidikan kesetaraan (UPK) di UPT SKB Gedeg Mojokerto, Minggu (27/4). Barangkali ungkapan belajar tak mengenal usia, itu benar adanya.

INDAH OCEANANDA, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

SEBAGIAN besar para warga belajar lembaga pendidikan nonformal tersebut sudah berkeluarga dan memiliki anak. Di antara mereka masih memiliki balita, sehingga meski sedang menjalani ujian, tidak dapat ditinggal. Seperti yang dialami Lia Ratnasari, salah satu peserta UPK paket C setara SMA kelas XII. ’’Anak masih usia enam bulan, nggak bisa ditinggal, di rumah nggak ada yang jaga,’’ ungkap ibu tiga anak ini.

Sesekali ia menggarap soal sembari memastikan anak bungsunya itu agar tetap terlelap. Lia, warga Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang ini mengaku, sudah menempuh pendidikan kesetaraan di lembaga tersebut selama tiga tahun. ’’Kalau saya seharian di rumah juga punya usaha, berjualan keripik pisang. Suami kerja di Mojokerto, anak pertama sudah SMA kelas X,’’ terangnya.

Perempuan 33 tahun ini mengaku ingin memiliki ijazah setara SMA agar bisa bekerja sewaktu-waktu. Tak hanya itu, ia merasa ijazah SMA sangat penting dibutuhkan untuk saat ini. ’’Ya, jaga-jaga kalau nanti ijazah SMA diperlukan. Yang penting semangat,’’ tuturnya.

Lain cerita dengan Imam Bukhori. Warga Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi ini menjadi peserta ujian tertua di tahun ajaran 2024/2025. Sehari-hari, dia bekerja sebagai petani. ’’Tetapi, saya di desa juga jadi ketua RT. Tetap semangat, sebentar lagi lulus,’’ papar pria 58 tahun tersebut.

Imam memaparkan, setelah lulus kejar paket C, dia ingin mengabdi sebagai aparat desa. Ijazah yang dia dapatkan dari pendidikan kesetaraan ini, sambungnya, menjadi bekal menjadi calon kepala dusun. ’’Dikira orang-orang saya ini malah lulusan sarjana. Makanya saya termotivasi mau sekolah lagi, biar dapat ijazah SMA dan bisa nyalon kepala dusun,’’ ulas dia.

Mereka menjalani UPK selama dua hari, yaitu Sabtu (26/4) dan Minggu (27/4). Selama pelaksanaan ujian, ada empat hingga enam mata pelajaran yang diujikan. ’’Tergantung paketnya. Kalau kejar paket C, setara SMA ada enam mata pelajaran yang diujikan. Kalau di lembaga formal, UPT SKB Gedeg ini setara dengan SMA jurusan IPS,’’ imbuh Kepala UPT SKB Gedeg Hatta Mustofa.

Hatta menambahkan, UPT SKB Gedeg Mojokerto resmi terdaftar di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Sehingga ijazah yang akan diperoleh para peserta didik setelah mengikuti ujian kejar paket benar-benar diakui oleh Negara. ’’Mereka, baik yang putus sekolah maupun yang belum berkesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan kami dorong untuk mengambil program kesetaraan, sepanjang usianya masih memenuhi. Tujuanya, ya meningkatkan tingkat tamatan sekolah dan mengurangi angka anak tidak sekolah,’’ bebernya. (fen)

 

Editor : Hendra Junaedi
#gedeg mojokerto #Ujian Pendidikan Kesetaraan #paket c #skb