Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ahmad Fauzan, Perajin Kepala Bantengan dan Barongan Asal Sooko Mojokerto, Berhasil Diminati hingga Pasar Luar Negeri

Fendy Hermansyah • Kamis, 14 Maret 2024 | 21:16 WIB

TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Keterampilan Ahmad Fauzan di bidang ukiran bantengan dan barongan sudah dilirik pangsa pasar luar negeri.

Bermula dari hobi, karya tangan kreatifnya kini diminati konsumen dari Singapura dan Malaysia.

Suara ketukan palu kayu dan alat ukir terdengar di teras rumah Ahmad Fauzan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Dia tampak sibuk menggarap pesanan ukiran barongan berbahan kayu dadap.

Tangan kanannya memukul alat ukir menggunakan palu kayu. Sedangkan, tangan kiri mengarahkan pahat membentuk ukiran wajah barongan sepanjang 18 centimeter.

Bahan dasar kepala barongan ini, nantinya akan diamplas, dicat, diplamir, kemudian dijemur hingga mengering.

TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).

’’Proses jemurnya sampai 1 hari tergantung cuaca. Kalau hujan bisa sampai tiga hari. Tapi, ini khusus kepala barongan yang 23 centimeter,’’ ujar Fauzan.

Teras rumah dijadikan tempat membuat kerajinan. Sehari-hari, Fauzan rutin mengukir di tempat itu.

Selain ukiran kepala barongan dan bantengan, Fauzan juga mengerjakan ukiran hewan lainnya untuk hiasan.

Keterampilan mengukir ini sebelumnya diperoleh Fauzan sejak usia sembilan tahun. Tepatnya, saat kelas tiga SD.

Bapak satu anak ini awalnya ingin memiliki topeng, tapi belum mampu membeli. Akhirnya, dia membuat sendiri.

TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).

Berbekal ketelatenan dan keterampilan mengukir, karya tangan Fauzan itu banyak dilirik konsumen. Khususnya, para pegiat tradisi dan pecinta hiasan.

’’Sekitar 2015, saya memutuskan membuka usaha ukiran alat kesenian ini. Tetapi, pemasarannya masih lewat Facebook dan WhatsApp. Kemudian, sekitar 2022 baru mulai membuka pemesanan di toko online,’’ ungkapnya.

Tak disangka, keterampilan mengukir yang awalnya dilarang orang tua, kini berbuah manis.

Bahkan, Fauzan mulai kebanjiran pesanan dari konsumen seluruh daerah di Indonesia. Bahkan, pesanan muncul dari konsumen luar negeri.

Pesanan luar negeri yang didapat Fauzan seperti dari Singapura dan Malaysia. Pesanan dari luar negeri biasanya dijadikan sebagai hiasan.

TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).

’’Pesanan dari Singapura itu hanya satu kepala bantengan. Sedang, yang dari Malaysia ada dua kepala barongan. Semua ukurannya sama, yakni 23 centimeter dengan berat mencapai lima kilogram,’’ jelasnya.

Motif dan bentuk alat kesenian buatannya, sebagian besar mengikuti keinginan pembeli. Tetapi, Fauzan juga perlu melihat orang yang akan membeli hasil ukirannya.

’’Kalau orangnya agak gemuk, biasanya saya buat seperti kepala sapi limosin,’’ beber laki-laki 27 tahun itu.

Produk karya tangan kreatif seniman asal Sooko ini dibanderol sesuai dengan bahan dan tingkat kerumitan ukiran. Semakin bagus kualitas kayu yang digunakan, semakin tinggi juga harganya.

’’Harganya bervariatif. Mulai Rp 15 ribu untuk gantungan kunci, Rp 35 ribu hingga Rp 55 ribu untuk kepala bantengan. Dan Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta untuk kepala barongan dengan aksesorisnya. Untuk satu kepala bantengan, waktu pembuatannya sekitar 20 menit, sedangkan untuk barongan sampai tiga bulan,’’ jelas Fauzan.

TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).
TELATEN: Ahmad Fauzan membuka usaha kerajinan kepala bantengan dan barongan, di Dusun Kedung Bendo RT02/RW02, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (7/3/2024).

Meski demikian, David mengaku mengalami kendala di bahan baku. Lantaran, saat ini harga bahan baku kayu mulai meningkat. Sebagai penyesuaian, dirinya mengurangi ukuran produk.

Selain itu, dia juga sering terkendala cuaca yang tidak menentu. Kendala cuaca membuat proses pengeringan cat lebih lambat dari biasanya.

Selama menekuni usaha tersebut, Fauzan merasa senang dan puas. Karena dirinya bisa menyalurkan hobi ke dalam karya yang berharga.

’’Alhamdulillah dari hobi membuat ukiran ini bisa terjual dengan omzet per bulannya sekitar Rp 24 juta. Tergantung ramainya pembeli,’’ pungkasnya. (Nailul Mufarichah/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#bantengan #barongan #kabupaten #umk mojokerto #mojokerto #kerajinan mojokerto