Yulianto Adi Nugroho, Kranggan-Trowulan
SECARIK koran berbahasa Mandarin menghampar di meja tamu rumah bernuansa klasik itu, Kamis (29/2) siang. Di sebelahnya, berada koran terbitan Jawa Pos Radar Mojokerto edisi dua hari lalu.
Dari tempatnya duduk di kursi sofa, Gunarto Effendi beranjak mengenakan kaca mata, untuk membacanya ulang. ’’Yang koran edisi hari ini ada di meja belakang, tadi pagi saya baca,’’ ujar pria berambut putih itu berbincang dengan Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.
Sudah puluhan tahun Gunarto menjadi pelanggan tetap koran terbitan Jawa Pos. Sejak circa 1970-an dan ketika anaknya, Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM), lahir pada 2001, langganan itu tak terputus sampai sekarang.
Dari ketika ia masih kecil tinggal di Lingkungan Kranggan Gang V, kemudian pindah ke Jalan Wijaya Kusuma (Banjaragung, Puri), hingga akhirnya kini tinggal di Jalan WR Supratman 16, Kota Mojokerto, sejak 1990-an.
Di samping memiliki kegemaran membaca, berlangganan koran memang sudah menjadi tradisi turun temurun keluarganya. Memori menikmati kopi pagi sambil membaca koran yang dilakukan ayahnya diwarisi Gunarto sampai beranjak tua sekarang.
Kebiasaan itu bahkan belanjut sampai ia tinggal bersama istri dan sang kakang ipar, Jinandar Sinulingga, 73, saat ini. ’’Pernah dulu kita telepon ke kantor penerbit karena sampai siang tidak ada koran, entah sudah dikirim tapi diambil orang atau bagaimana, tapi akhirnya dikirim lagi,’’ kenangnya.
Sebagai pembaca setia dan mungkin juga terlama, baik Gunarto maupun Jinandar menemukan kecocokan tersendiri dengan Jawa Pos dan JPRM. Gunarto misalnya, merasa lebih enak membawa koran terbitan grup Jawa Pos karena tulisannya yang mudah terbaca dengan ukuran huruf lebih besar dari yang lain.
’’Kalau koran-koran lain itu kan agak kecil ya, tapi Jawa Pos termasuk Radar Mojokerto ini tulisannya lebih jelas, jadi kita lihat lebih gampang, arahnya ke mana, sambungannya ke mana. Jadi lebih mudah dimengerti,’’ tutur ayah tiga anak itu dalam pertemuan di rumah yang juga menjadi tempat produksi sabun tersebut.
Gaya cetak demikian, menurut Gunarto, lebih ramah bagi pembaca. Terutama mereka-mereka yang sudah sepuh. Apalagi orang-orangnya seperti dirinya dan sang kakak cenderung kurang nyaman dengan berita yang bercampur bahasa Inggris. Berita yang terlalu banyak istilah asing membuat pria keturunan Tionghoa ini makin pusing.
’’Makanya kadang-kadang orang tua juga berlangganan koran bahasa Mandarin karena yang bahasa Indonesia suka dicampur-campur bahasa Inggris itu lho,’’ lontarnya disambung tawa.
Selain alasan fisik, Gunarto juga telah menaruh kepercayaan sumber informasinya kepada koran. Kendati sekarang berita bisa mudah didapat lewat ponsel, dia tetap setia dengan media cetak.
’’Karena kadang yang di HP itu ada saya yang tidak benar kan, kalau koran begini kan pastinya benar, karena sudah dicetak dia tidak mungkin berani berbohong,’’ ungkapnya optimistis.
Kalau kata peribahasa tak ada gading yang tak retak, maka tak ada pula koran yang tiba di tangan pembaca tanpa agen. Begitulah peran yang dijalankan Achmad Winarno sejak 1984 silam. Warga Jalan Raden Wijaya 21, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ini menjadikan pekerjaan sebagai agen Jawa Pos Radar Mojokerto jalan hidup.
’’Karena dari dulu saya punya semangat untuk selalu mengikuti perkembangan surat kabar dan saya percaya bahwa media surat kabar tidak akan pernah mati,’’ tutur pria 65 tahun tersebut.
Semangat itu yang membuat Winarno di usia seniornya sekarang masih mampu menempuh perjalanan sejauh 60-70 kilometer setiap hari. Ia bertanggung jawab kepada ratusan pelanggan di wilayah Kecamatan Trowulan, Sooko, Puri, Dlanggu, Gondang, dan Jatirejo.
’’Koran itu jadi penghasilan unggulan saya sejak masih bujang, meskipun sekarang saya ada usaha sampingan. Tetapi, saya tetap ingin menjadi agen, selama Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Mojokerto terbit,’’ ungkap kakek lima cucu yang juga menjalankan bisnis toko fotokopi dan alat tulis itu.
Keyakinan Winarno terhadap eksistensi media koran tinggi. Asalkan, di tengah era digital ini, tetap menjaga kualitas dan kepercayaan pembaca. ’’Karena orang butuh berita yang bisa dipertanggungjawabkan, dan koran adalah jawabannya,’’ tandas dia. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah