RIZAL AMRULLOH, Dawarblandong
RASA penasaran membawa Erika, 38, singgah ke Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Dari Terminal Kertajaya, warga Desa/Kecamatan Puri ini rela menempuh perjalanan menggunakan Trans Jatim Koridor III hanya untuk mencicipi olahan makanan belalang.
’’Ya karena penasaran aja,’’ ungkapnya mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto.
Tak sendiri, dia juga turut mengajak lima orang anggota keluarga dan temannya. Erika mengaku mengetahui terkait olahan makanan belalang dari rekan-rekannya.
Karena tertarik ingin mencoba, akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi warung Cah Ayu Kirana yang menjajakan aneka olahan belgor alias belalang goreng.
’’Baru kali ini makan belalang. Ternyata rasanya mantul, gurih, kriuk-kriuk,’’ kesannya.
Erika menyebut, menu nasi jagung sambal kemangi menjadi pilihan favorit. Aroma khas dari daun kemangi menjadi pendamping yang pas untuk menikmati belalang goreng krispi. ’’Karena pedasnya nampol,’’ paparnya.
Sementara itu, Fatmawati pemilik warung mengatakan, nasi jagung sambal kemangi memang menjadi salah satu menu andalan dari olahan belalang goreng. Kuliner tersebut disuguhkan langsung di atas cobek dengan satu bakul sego empog.
’’Yang favorit sambal kemangi, katanya aroma khas dan lebih sedap,’’ sambung dia.
Selain itu, olahan belalang juga dikreasikan menjadi menu bumbu pedas. Kreasi makanan ini menyajikan sensasi lebih crunchy karena belalang digoreng hingga benar-benar kering.
Bagi yang tidak menyukai pedas, dia juga menawarkan belgor bumbu original.
Usaha kuliner yang anti-mainstream ini telah digeluti sejak 2015 oleh Fatmawati.
Awalnya, dia merintis usahanya hanya dengan menjual belalang goreng di rumahnya di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong.
Saat ini, ibu tiga anak ini telah mengembangkannya dengan membuka warung yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
’’Karena ada yang minta agar tidak belalang goreng saja, akhirnya jualan belalang sama nasi jagungnya ini,’’ imbuhnya.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Fatmawati harus berburu bahan baku hingga ke luar daerah. Saat ini, dia mendapat suplai belalang dari Situbondo dan Probolinggo.
Dalam dua hari sekali, masing-masing pemasok mengirim bahan baku belalang sebanyak 5 kilogram (kg). ’’Ada dua jenis yang bisa diolah. Yaitu belalang padi dan belalang kayu,’’ terangnya.
Untuk bisa dikonsumsi, hewan jenis serangga pemakan daun itu dilakukan pembersihan lebih dulu. Yakni dengan membuang kotoran dalam perut, sayap, dan bagian kaki yang memiliki duri.
Selanjutnya, belalang digoreng hingga renyah dan diracik dengan bumbu-bumbu khas ala Fatmawati.
Rupanya, aroma lezat belgor juga tercium hingga luar daerah. ’’Pelanggan ada yang dari Banyuwangi, Jombang, Gresik, hingga Malang,’’ imbuhnya.
Berkembangnya usaha kuliner tersebut juga mampu menambah pundi-pundi penghasilan rumah tangga dari Fatmawati.
Dengan harga satu porsi Rp 25 ribu, dia dapat meraup omset rata-rata Rp 1,2 juta-Rp 1,3 juta per hari. Selain itu, dia juga menjual belgor kemasan yang dibanderol Rp 50 ribu per 170 gram. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah