Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Yayak, Hafiz Penyandang Disabilitas, Hidupi Keluarga dari Jasa Service Elektronik

Moch. Chariris • Jumat, 8 Desember 2023 | 04:35 WIB

RAMAH: Yayak (kanan) menemui tamu di rumahnya, di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kamis (7/12). (foto Putri Fadiyah)
RAMAH: Yayak (kanan) menemui tamu di rumahnya, di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kamis (7/12). (foto Putri Fadiyah)

Di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Seperti yang dialami Yayak Agus Santoso, penyandang disabilitas asal Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini. Bermodal dari hobi mengutak-atik barang elektronik, kini pria 55 tahun itu mampu menafkahi keluarga.

NADYA AZ ZAHRA – Trowulan, Mojokerto

”ASALNYA memang dari hobi sejak di pesantren, dan berlanjut hingga sekarang. Jadi sumber cuan,” ujar Yayak, di rumahnya, Kamis (7/12).

Prinsip hidup tidak ingin bergantung pada orang lain, membuat bapak dua anak itu terus berjuang. Meski hanya tamatan sekolah dasar (SD), Yayak tak lantas berhenti berusaha demi mencukupi kebutuhan keluarga sebagai tukang servis elektronik.

Bahkan, merelakan waktunya menjadi guru ngaji bagi anak-anak sekitar rumah. ”Kalau habis Magrib ada anak-anak yang ngaji di sini,” imbuh dia.

Berawal dari sebagai santri di salah satu pondok pesantren di Trowulan tahun 1983, ia mulai menghafalkan Alquran secara bertahap selama tujuh tahun. Setelah itu, Yayak memutuskan pulang dari pesantren tahun 2000.

RUTIN: Yayayk (dua dari kiri) di tengah menghadiri acara JHQ di Pendapa Majatama Pemkab Mojokerto. (foto dokumen Yayak)
RUTIN: Yayayk (dua dari kiri) di tengah menghadiri acara JHQ di Pendapa Majatama Pemkab Mojokerto. (foto dokumen Yayak)

Dari ketekunan sebagai santri, Yayak pun kini menyandang status sebagai hafiz alias penghafal Alquran. Dia mampu menghafal Alquran hingga 30 juz, meski dengan keterbatasan fisik akibat didiagnosis menderita polio sejak kecil. ”Ya, saya berangkat ke pesantren sekitar tahun 1983 terus pulang tahun 2000” terangnya.

Kini ia rutin mengikuti beberapa majelis penghafal Alquran. Dia juga kerap diundang dalam acara khataman Alquran di sebuah pabrik rokok dan rumah-rumah warga. ”Saya rutin diundang khataman di pabrik rokok di Trowulan dan beberapa majelis khataman lainnya,” tambahnya.

Sepeda motor dimodifikasi khusus bagi penyandang disabilitas satu-satunya moda transaportasi yang mengantarnya dari satu majelis ke majelis lainnya. Hal itu biasa ia lakoni di tengah kesibukan sebagai tukang service elektronik. Bahkan, hingga kini Yayak istikamah murajaah (melafazkan kembali surah Alquran) setelah salat.

Dia mengaku meski omzetnya sebagai tukang service elektronik tidak menentu, bahkan hanya Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan, dirinya tetap bersyukur. ”Yang penting hidup itu terus dijalani, dinikmati, dan belajar mandiri. Karena rezeki sudah ada yang mengatur. Jadi kita tidak perlu khawatir,” ungkapnya.

Memang, dalam merintis usaha tidak selalu berjalan mulus. Di tengah keterbatasan, Yayak kerap kali menemui kendala. Seperti tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari laiknya masyarakat pada umumnya. Atau ketika menuju majelis khataman Alquran dan menjalani tukang service panggilan. ”Dulu saya jemput bola, tapi karena usia bertambah tua, saya sekarang menerima service di rumah saja,” pungkasnya.

Editor : Moch. Chariris
#hafiz #elektronik #disabilitas #service #trowulan