YULIANTO ADI NUGROHO, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
SUASANA GOR Indoor Gelora Ahmad Yani begitu kemriyek sejak pagi. Sambil membawa busur, anak-anak keluar masuk lapangan tenis dengan kantong anak panah di pundak. Tak sedikit di antaranya yang bersantai menggelar tikar di halaman bersama orang tuanya. Ada yang sedang menunggu giliran, ada pula yang beristirahat usai pertandingan.
Kemarin, mereka sedang mengikuti Festival Panahan Majapahit. Ajang ini diikuti sekitar 335 pemanah cilik dari seantero Jawa Timur dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Mereka terdiri dari pelajar TK dan SD. Pertandingan panahan tradisional ini dibedakan dalam dua kategori, yakni panahan 5 meter untuk peserta TK sampai kelas 3 SD dan 10 meter untuk kelas 3 sampai 6 SD.
Menurut Ketua Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Kota Mojokerto Atik Rokayani, para pemanah cilik itu memang dengan bersama keluarga dan pelatih masing-masing. Sebagaimana anak kecil, mereka butuh pendampingan intens dari orang dekat agar emosinya terjaga. ’’Karena anak-anak ini sangat moody-an. Menjaga mood (suasana hati) anak ini susah sekali,’’ ujarnya, kemarin.
Tak sedikit peserta dari luar daerah sudah tiba di Kota Mojokerto sejak sehari sebelumnya. Mereka menginap agar anaknya tidak kecapaian. Selain itu, selama kegiatan festival ini, para orang tua berperan menjaga emosional anaknya yang mudah sekali berubah. Atik menyebut, berbagai cara dilakukan agar para atlet cilik tersebut tetap gembira. ’’Untuk membangkitkan mood, anak-anak dibuat happy. Biasanya dijanjikan nanti beli ini dan itu, nanti dapat hadiah ini dan itu,” tuturnya disambung tawa.
Olahraga panahan tradisional berbeda dengan olahraga panahan profesional di bawah naungan KONI. Panahan tradisional bersifat sebagai kesenian dan menggunakan busur berbahan fiber serta anak panah berbahan kayu dan bambu. ’’Kalau di panahan yang cabor KONI itu kan sudah modern, dari pertandingan sampai cara membidiknya. Kalau kita ini benar-benar murni tidak ada alat bantu apa-apa,’’ tandasnya.
Festival panahan tersebut digelar untuk memasyarakatkan panahan sebagai kesenian sekaligus potensi wisata di Kota Mojokerto kepada warga luar daerah. Selain sebagai ajang silaturahmi bertepatan dengan peringatan Hari Santri, ajang panahan ini sekaligus untuk mencari bibit unggul. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah