Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengintip Produksi Kerajinan Cobek di Mlaten, Puri, Kabupaten Mojokerto

Moch. Chariris • Kamis, 14 September 2023 | 07:55 WIB

TERAMPIL: Ahmad Sodikin, perajin melakukan pewarnaan cobek sebelum melalui proses pembakaran, di rumahnya, Dusun Bedog, Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Senin (11/9).
TERAMPIL: Ahmad Sodikin, perajin melakukan pewarnaan cobek sebelum melalui proses pembakaran, di rumahnya, Dusun Bedog, Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Senin (11/9).
Pengiriman Tembus Kalimantan hingga Aceh, Bulan Maulid Jadi Berkah

Ahmad Sodikin tak menyangka, geliat usaha kerajinan cobek berbahan tanah liat yang ditekuninya mampu menembus pasar luar pulau. Di Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, ini bisnis gerabah yang dijalankan sejak 2009 silam tersebut kebanjiran pesanan.

Rizki Firmansyah, Puri, Mojokerto

GUNDUKAN tanah liat dan tumpukan cobek memadati teras dan samping rumah Ahmad Sodikin, di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Ya, tanah liat itu menjadi bahan baku utama kerajinan gerabah yang sudah digelutinya selama puluhan tahun.

”Awalnya terinspirasi paman saya untuk memulai usaha ini. Tahun 2009, saya baru memulai usaha cobek ini,” ujar Ahmad Sodikin, ditemui di tengah memproduksi cobek.

Dengan tangan berlumur tanah liat, ketua Karang Taruna Dusun Bedog, Desa Mlaten itu tampak mahir memutar cobek di meja perbot usai dijemur.

Cobek kemudian melalui tahap pewarnaan yang diolesi menggunakan warna batu bata yang sudah dihaluskan.

Dibantu empat pekerja, dalam sehari, Ahmad Sodikin mampu menghasilkan 200 hingga 300 cobek. Meliputi, ukuran kecil, sedang dan besar.

”Dulu, saya mulai memasarkannya dengan berkeliling dari rumah ke rumah. Masih pakai ronjot (rengkek),” imbuh Mamad, begitu Ahmad Sodikin akrab disapa.

Selain dipasarkan secara manual dengan blusukan ke pasar-pasar tradisional dan rumah tangga, selama ini, Mamad menjualnya lewat media sosial.

Dia menceritakan, saat ini usaha yang dirintis bersama keluarganya tidak lagi kebingungan konsumen. Bahkan, kerajinan gerabah yang dijalankan bersama sang ayah kebanjiran pesanan.

Konsumen dari berbagai daerah mulai berdatangan dan memesan produk kerajinan gerabah yang sudah puluhan tahun dijalankan. ”Untuk sekali kirim biasanya bisa mencapai 2 ribu cobek,” ujarnya.

BERTAHAN: Produksi cobek berbahan tanah liat yang ditekuni Ahmad Sodikin kebanjiran pesanan selama bulan Maulid.
BERTAHAN: Produksi cobek berbahan tanah liat yang ditekuni Ahmad Sodikin kebanjiran pesanan selama bulan Maulid.

Ukuran produksi cobek buatan Mamad beragam. Mulai dari diameter 17 sentimeter hingga 30 sentimeter. Cobek paling murah dijual Rp 2 ribu untuk ukuran kecil. Sedangkan cobek berukuran besar (30 sentimeter) dipatok Rp 6 ribu. 

”Cobek berukuran 17 sentimeter, paling banyak diminati pembeli,” tandasnya. Belakangan, pesanan yang mengalir tidak hanya dari luar kota.

Terlebih, selama bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tak sedikit konsumen dari luar pulau memesan lewat media sosial. Seperti dari Aceh, Batam, hingga Tarakan, Kalimatan Utara.  

Sekitar rumah Mamad yang dipenuhi tumpukan kerajinan gerabah tersebut juga kerap jadi jujukan study banding pelaku UMKM dan sekolah. ”Sudah beberapa kali, sekolah dari Mojokerto datang ke sini. Ya, sekadar untuk mendapatkan edukasi pembuatan gerabah dan berbagi pengalaman,” imbuhnya.

Selain cobek, kini Mamad mengembangkan usahanya dengan memproduksi guci (slebau) atau tembikar berbahan tanah liat, tungku, dan suvenir cobek untuk pernikahan. (ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#cobek #kerajinan #puri #mojokerto