Kehidupan di jalanan memiliki daya tarik tersendiri bagi komunitas Mojokerto On the Street (MOS). Mereka mengabadikan kehidupan di jalan melalui lensa kamera. Uniknya lagi, kamera yang digunakan cukup dengan smartphone.
INDAH OCEANANDA, Mojokerto Raya, Jawa Pos Radar Mojokerto
SEBULAN sekali, mereka berkeliling Mojokerto untuk hunting. Tempatnya bebas. Bisa ke ladang yang terletak di dekat basecamp mereka, Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo. Tak jarang pula mereka juga mengabadikan aktivitas warga di Alun-Alun Kota Mojokerto atau pasar tradisional.
”Tergantung hunting-nya lagi ambil konsep apa. Misal ambil konsep foto landscape, ya hunting di sekitar Pesanggrahan. Kalau mau ambil fotografi konsep still life, ya hunting di pasar,” kata Bambang Pinuji, salah satu pendiri komunitas MOS.
Bambang menceritakan, komunitas ini ia dirikan bersama lima teman lainnya yang sama-sama menyukai dunia fotografi. Tepatnya Februari 2015 silam. ”Berawal dari kesamaan hobi foto dan memaksimalkan lewat HP saja.
Sebenarnya dulu berawal dari komunitas Mojokerto Phonegraphy (MPG) yang suka njepret pakai smartphone tahun 2014 silam. Tapi karena banyak anggotanya yang suka jalan-jalan, jadinya ya sekarang namanya Mojokerto On the Street (MOS),” kenang dia.
Anggota komunitas ini terdiri dari banyak kalangan. Baik muda dan tua yang gemar fotografi dan jalan-jalan. Sekali hunting, tidak kurang puluhan pegiat yang ikut.
”Kalau anggota yang terdaftar justru ada 1.000 lebih dari Mojokerto sekitar, tapi kalau hunting ya belasan kadang 20 lebih,” ungkap pria 48 tahun ini.
Komunitas ini memiliki semacam tagline, gambar apik tak harus diabadikan menggunakan kamera yang mahal. Bambang menuturkan, grup ini mewadahi kreativitas masyarakat Mojokerto dan sekitarnya yang menyukai fotografi jalanan.
Selain tempat hunting yang sederhana, alat yang digunakan juga cukup dengan smartphone. ”Karena memotret dengan HP itu tantangan tersendiri. Selain itu, bisa jadi pembuktian dari segi art nggak kalah dengan kamera profesional meski diakui, kalau dari sisi pixel kalah,” beber dia.
Bapak dua anak ini menyebutkan, di sela hunting foto, mereka biasanya juga menggelar diskusi atau sharing karya melalui pameran yang digelar di tempat publik. Dalam acara ini, masing-masing anggota mengungkapkan pengalaman dan pengetahuan memotret.
Tidak jarang acara sharing ini berisi saling berbagi teknik fotografi. ’’Intinya sih, dalam acara sharing kita mendapat ilmu dan wawasan. Sedangkan dengan bergabung dengan komunitas kita menjadi banyak teman dan jaringan,” pungkas Bambang. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah