Memiliki hobi dan kecintaan yang sama terhadap benda-benda langit, membuat sekumpulan orang memiliki kegiatan yang mengasyikkan. Lewat Komunitas Mojopahit Astronomi Club, mereka seolah menyibak langit demi menuntaskan keingintahuan terhadap benda-benda angkasa.
INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
MOJOPAHIT Astronomi Club merupakan komunitas astronomi yang telah berusia sepuluh tahun. Komunitas ini berisi sekumpulan masyarakat dari Mojokerto Raya dengan berbagai latar belakang yang hobi terhadap segala hal menyoal astronomi. Meski topik yang jadi bahasan di komunitas ini sangat ilmiah dan berbasis sains, namun anggotanya tidak harus berasal dari kalangan mahasiswa dengan studi khusus tentang astronomi. Siapapun bisa bergabung asalkan punya minat terhadap benda-benda langit.
Salah satunya ialah Siti Alfa Nurhayati, ibu rumah tangga yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Mojopahit Astronomi Club. Sama sekali tidak memiliki latar belakang studi khusus tentang astronomi. Tetapi, berkat kegemarannya terhadap fotografi dan keelokan langit semuanya bergabung dengan komunitas ini beberapa tahun lalu. ”Memang dari kecil suka dunia astronomi, terus setelah pisah dari Surabaya Astronomi Club tahun 2014, akhirnya mendirikan komunitas ini untuk mengumpulkan sesama pecinta astronomi di Mojokerto,” ungkap Siti mengawali percakapan.
Siti menuturkan, setiap bulannya mereka punya agenda berkumpul bersama. Dalam kegiatan itu, Mojopahit Astronomi Club akan membawa teleskop untuk mengamati susunan langit. Di samping itu, mereka juga akan berdiskusi tentang ilmu astronomi. ”Jadi kegiatannya mengamati benda-benda langit pagi dan malam hari sekaligus ada diskusi bareng juga,” ujarnya.
Total anggota komunitas yang berdiri sejak tahun 2014 ini kurang lebih 50 orang yang berasal dari berbagai macam profesi. Mereka merupakan warga asli Kota maupun Kabupaten Mojokerto.
Peristiwa gerhana matahari hibdrida yang terjadi pada Kamis (20/4) lalu juga menjadi kegiatan pengamatan yang dilakukan Mojopahit Astronomi Club. Ibu satu anak ini mengaku, kegiatan meneropong yang berlangsung di alun-alun Kota Mojokerto tersebut menjadi agenda aktif komunitasnya pasca terhantam pandemi Covid-19. ”Baru mulai aktif lagi tahun lalu, karena saat pandemi kita nggak bisa kumpul-kumpul di tempat umum. Alhamdulillah, kemarin meskipun puasa, banyak warga yang antusias bergabung melihat gerhana dengan kami,” papar Siti.
Selama pandemi, lanjutnya, kegiatan Mojopahit Astronomi Club terbatas menjadi diskusi astronomi secara daring. Selebihnya, tak ada kegiatan pengamatan. Beruntungnya, saat ini kegiatan mereka perlahan berjalan seperti biasanya. Untuk spot pengamatan, alun-alun Kota Mojokerto menjadi titik andalan mereka untuk berburu menyaksikan ragam benda langit. ”Kalau pagi hari, biasanya dari pukul 8-10 gitu ngamatin matahari. Kalau malam, biasanya hari Sabtu sekitar pukul 7-9 malam kita ngamatin bulan sama planet,” ulasnya.
Siti punya alasan tersendiri memilih alun-alun Kota Mojokerto untuk melakukan kegiatan komunitasnya. Dia menilai, tempat hiburan di pusat Kota ini menjadi titik teropong yang optimal. Di samping itu, menurutnya, alun-alun juga bisa menjadi tempat ia mengenalkan dunia astronomi pada masyarakat. ”Di sini (Alun-alun, Red) memang seru karena ruang publik yang ramai, jadi kita bisa sekaligus mengenalkan tentang komunitas ini kepada pengunjung yang tertarik,” beber wanita 49 tahun ini.
Adapun, sebelum meneropong, biasanya mereka akan memantau prediksi dan laporan BMKG serta sejumlah situs serupa untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi langit. Selain kegiatan meneropong dan berdiskusi Mojopahit Astronomi Club, juga banyak terlibat kegiatan dengan sejumlah pihak. Mulai dari mengisi webinar dengan lembaga dan kampus dengan studi terkait.
Serta, memberikan edukasi tentang astronomi kepada anak usia dini dengan menggelar kegiatan membaca dan mengamati benda-benda langit bersama dengan komunitas taman baca. ”Ini sudah ada permintaan ngisi kegiatan meneropong benda langit dengan komunitas taman baca yang ada di Trowulan juga,” pungkas warga Kecamatan Mojosari ini. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah