Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menengok Budi Daya Buah Tin di Tempuran, Pungging, Kabupaten Mojokerto

Fendy Hermansyah • Jumat, 31 Maret 2023 | 14:45 WIB
DIKEMBANGKAN: Yayan memetik buah tin matang di kebunnya kemarin. (Yulianto Adi Nugroho/JPRM)
DIKEMBANGKAN: Yayan memetik buah tin matang di kebunnya kemarin. (Yulianto Adi Nugroho/JPRM)
Buahnya untuk Program Kehamilan, Daunnya Cocok Jadi Teh Herbal

Di Dusun Joho, Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, tumbuh subur buah tin. Buah “impor” dari surga ini berhasil dibudidayakan dengan teknik semi hidroponik. Tak hanya buahnya yang banyak manfaat, daun tanaman buah tim bisa diolah jadi minuman berkhasiat.

YULIANTO ADI NUGROHO, Pungging, Jawa Pos Radar Mojokerto

DI antara semak belukar tepi jalan Dusun Joho berdiri sejumlah bangunan green house. Yani Suharto alias Yayan yang berinisiatif memanfaatkan tanah lapang itu menjadi kebun holtikultura. Tapi, dia ingin tempat ini dikhususkan untuk tanaman yang sulit tumbuh.

Di sinilah, pria 57 tahun itu akhirnya sukses mengembangkan cabai carolina reaper, jenis cabai yang disebut-sebut terpedas di dunia. Selain cabai, Yayan kemudian membudidayakan tanaman unik lain, yakni buah tin. ”Tanaman buah tin ini terkenal susah dirawat, kami kembangkan dengan cara semi hidroponik dan alhamdulillah bisa berhasil,” ujar Yayan ditemui di kebun bernama Fath Garden miliknya, kemarin (30/3).

Saat ini, ada sekitar 89 tanaman tin yang dikembangkan di dua green house seluas 6x22 meter persegi. Buah yang diriwayatkan berasal dari surga ini baru berumur sekitar 3-4 bulan. Ada tiga jenis buah tin yang dikembangkan. Ketiganya bisa dibedakan dari warnanya saat matang, yakni merah, hitam, dan kuning. Tanaman buah tin di sini menyerupai ketela. Batangnya kecil setinggi kira-kira 3-4 meter dengan daun mirip pepaya. Buah tin yang masih mentah berwarna hijau dan menempel langsung ke pohon. ”Kalau kata orang-orang mirip buah pepaya,” kata Faisal saat ditanya bagaimana rasa buah tin.

Anang Faisal, begitu nama lengkapnya, adalah pekebun buah tin di kebun milik Yayan. Dia menanam buah yang juga dikenal dengan nama buah ara itu dengan cara setek dan cangkok, lalu merawat, sampai memanen. Menurut Faisal, sekali panen, satu batang pohon tin bisa menghasilkan 20-30 buah. Buah seukuran jambu air ini bisa dipanen pada umur 6 bulan. ”Kalau sudah panen, pohonnya dipotong nanti tunasnya tumbuh lagi, terus bisa berbuah lagi,” ujar pria 36 tahun ini. Budi daya buah tin ini dimulai sejak lima bulan lalu. Tanaman yang habitat aslinya di timur tengah ini tumbuh dalam pot-pot.

Setiap pot tersebut tersambung dengan sistem pengairan otomatis yang disebut oleh Yayan teknik semi hidroponik. Sederhananya, setiap tanaman di green house diatur tidak perlu penyiraman. Ada alat otomatis di tatakan pot untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Alat ini dibuat sendiri oleh Yayan dan tim dengan nama Autopot Water Guard. ”Intinya membuat tanaman tidak kekurangan air dan tidak perlu penyiraman manual,” jelasnya.

Faisan mengatakan, sebagai tanaman adaptasi, banyak tantangan yang harus dihadapi saat mengembangkan buah tin. Salah satunya, jenis buah ini sangat rentan dengan hama dan jamur. ”Makanya harus dibuat green house. Karena kalau musim penghujan rawan kena jamur. Akhirnya kalau ditanam di tempat biasa tidak bisa berbuah karena mati,” ujar pria asal Prambon, Sidoarjo, tersebut.

Faisal mengatakan, selama ini buah tin banyak diburu warga sekitar maupun pembeli online. Selain dimakan langsung, buah ini banyak diolah jadi selain. ”Banyak kan manfaatnya. Yang sering itu dipakai untuk promil (program kehamilan), katanya memang bisa menyuburkan,” tutur dia. Tak hanya buahnya, daun buah tin juga kaya manfaat. Daun buah tin muda bisa diolah menjadi teh herbal dengan segudang khasiat. ”Pengolahannya mudah. Daun yang muda dipetik, terus dikeringkan, lalu tinggal disebuh jadi minuman seperti teh,” imbuh dia.

Di sini, buah tin dihargai Rp 120 ribu per kilogram (kg). Diakuinya, selama bulan puasa ini, terdapat peningkatan permintaan buah tin hingga 20-25 persen. Selama ini, penjualannya paling banyak dilakukan secara online. Paling jauh, Faisal melayani pesanan dari Jakarta. Sayangnya, buah tin memiliki waktu tahan hanya dua hari saat matang. Sehingga harus diberi penanganan khusus agar awet. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #pungging #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #program kehamilan #Pemkab Mojokerto #buah tin #tempuran #trawas #pacet #budi daya buah tin #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde