Daun kelor tak hanya bisa dimanfaatkan sayuran. Oleh puluhan warga Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, kelor yang tumbuh di halaman rumah bisa dijadikan bahan variasi produk UMKM bakso atau pentol. Bahkan, bisa meningkatkan omzet warga yang sebagian besar perajin pentol rumahan tersebut.
FARISMA ROMAWAN, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto
TIDAK pernah terpikir sebelumnya, jika kelor yang tumbuh di hampir semua halaman rumah warga Desa Balongmojo itu bisa dijadikan ikon produk unggulan. Tumbuhan bernama latin moringa oleifera ini memang tampak seperti pohon biasa dengan kayu cokelat dan daun mungil. Bahkan, tanaman hasil program Desa Berdaya dengan slogan One House One Kelor tahun 2020 ini tak perlu perawatan macam-macam. Cukup ditancapkan di pekarangan, kelor mampu hidup bahkan tumbuh subur.
Akan tetapi, sejak tahun lalu, warga desa yang sebagian besar adalah perajin sepatu dan produsen industri makanan ringan pentol ini terpikir untuk menggunakan kelor sebagai varian baru. Ide tersebut muncul setelah tanaman ini dinilai memiliki kandungan gizi tinggi sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Untuk itu, sangat cocok jika pentol yang mereka produksi dikampanyekan dalam varian pentol yang menyehatkan.
’’Kami sempat putus asa karena produk sandal sudah banyak dijadikan ikon UMKM desa lain. Kemudian kami melihat kok banyak tanaman kelor dan perajin pentol. Kami coba gabungkan, tapi browsing dulu, ternyata tidak banyak yang memanfaatkan tanaman ini. Padahal, manfaatnya sangat besar bagi kesehatan dan daunnya tinggal dipetik di depan rumah masing-masing,’’ terang Kades Balongmojo, Ahmad Muslik. Pun demikian pula dengan proses produksinya, 20 produsen UMKM yang dibina tidak merasa kesulitan.
Sebab, daun kelor yang dipetik di depan rumah warga itu mudah menyatu dengan bahan makanan apapun. Sebelum dicampur dalam adonan pentol, daun kelor muda direbus dulu sebelum di-blender. Atau bisa daun kelor dikeringkan dulu kemudian dijadikan topping pada lima varian. Mulai dari rasa original, keju, sayur, mercon, dan puyuh. Dengan model varian seperti itu, pentol banyak disukai pelanggan. ’’Pentol ini kan identik dengan jajan anak kecil, tapi bisa juga dimanfaatkan orang dewasa,’’ tambah salah satu produsen pentol kelor, Anik Anifah.
Untuk pemasarannya, produk pentol kelor dikelola oleh Badan Usaha Desa (Bumdes) setempat. Dengan memanfaatkan sistem online di sejumlah market place. Termasuk juga dengan memperkenalkan produk di sejumlah pameran kuliner luar kota. ’’Ada yang mengelola sendiri. Warga hanya menyetorkan jumlah produksinya yang dijual online atau dititipkan ke toko grosir,’’ tegasnya.
Dengan produksi pentol kelor, omzet warga kini berangsur-angsur naik. Di mana, rata-rata produksi yang hanya 10 kilogram (kg) pentol semua varian perhari, kini naik menjadi 14 kg perhari. Untuk harga sendiri, setiap satu box berisikan 30 biji pentol kelor mix, setiap produsen biasa menjual dengan harga Rp 25 ribu. Sementara untuk yang berisika 25 rasa original hanya dihargai Rp16 ribu. Sementara varian lainnya masing-masing senilai Rp 20 ribu.
’’Dari omzet 14 kg itu, 4 kg adalah pentol kelor yang dipasarkan melalui Bumdes. Jika permintaan banyak, pasti produksi diminta bertambah,’’ pungkas perajin pentol Siti Aisyah. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah