Berawal dari seorang pelukis keliling, Agus Suyono lambat laun mulai menunjukkan jati dirinya sebagai seniman sekaligus perajin kayu. Warga Desa Gebang Malang, Kecamatan Mojoanyar ini tak kenal lelah dalam merintis kerajinannya yang sebagian besar berbahan dasar kayu bekas.
FARISMA ROMAWAN, Mojoanyar, Jawa Pos Radar Mojokerto
TAK perlu susah payah mencari pria 48 tahun ini. Cukup datang di Galeri Sugaly Art, di Jalan Raya Mojokerto-Pasuruan, Desa Jabon, Kecamatan Mojonyar, pria berkacamata ini dipastikan bisa ditemui.
Hampir dua pertiga waktunya dalam sehari, ia habiskan di galeri yang juga digunakan sebagai rumah edukasi limbah kayu. Di sana, Agus bersama dua karyawannya tekun memproduksi dan menjual beragam karya seni pahat dan ukir berbahan dasar kayu.
Tak sekadar memproduksi, ia juga memamerkan sejumlah karya tangan yang sebagian besar berbahan baku limbah kayu tersebut. Seperti lukisan tokoh, ukiran kaligrafi, suvenir, alat peraga pendidikan, mainan edukasi, hingga mebeler dengan bentuk-bentuk unik.
Semua kayu dimanfaatkan Agus seefektif mungkin sehingga minim yang dibuang. ’’Biasanya memanfaatkan kayu pinus dari palet bekas atau papan dari serpihan kayu yang dipadatkan. Atau bisa dari kayu daur ulang bekas mebel,’’ terang Agus.
Agus menceritakan, galeri dan bengkel kayunya itu sengaja ia dirikan untuk mempopulerkan kerajinan kayu dengan nilai seni tinggi. Bahkan, Agus turut mengenalkan miniatur Kota Raja Majapahit sebagai mahakaryanya yang diproduksi sejak 2013.
Menggunakan potongan kayu jati bekas rumah gebyok, Agus butuh waktu hingga 3,5 bulan untuk bisa mengukir dan memahat kayu hingga menjadi miniatur berukuran 240 x 122 sentimeter persegi tersebut. Hanya saja, hasta karyanya itu belum bisa dipublikasikan lantaran tidak mengantongi hak cipta.
’’Hak cipta saya urus sejak 2017 sampai sekarang belum bisa. Alasannya karena istana Majapahit belum ketemu sehingga tidak berani,’’ tuturnya. Dari galeri itu, Agus mengaku bisa mendapatkan omzet penjualan Rp 40 juta sampai Rp 100 juta per bulan.
Permintaan paling besar berupa alat peraga pendidikan dan mainan edukasi. Yang mana, permintaannya sebagian besar berasal dari luar pulau. Seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok hingga Bali. Untuk harga, ia membanderol dengan nominal sendiri, tergantung dari tingkat kerumitan pembuatannya.
Seperti mebel kursi berbentuk tangan yang dijual seharga Rp 1,65 juta. Lalu meja jamur seharga Rp 1,25 juta. Ada pula mainan ayunan kuda seharga Rp 150 ribu atau gubuk kayu Rp 3,5 juta. Ada juga ukiran kaligrafi kayu yang ia banderol senilai Rp 1,2 juta dan lukisan hitam putih seharga Rp 400 ribu saja.
Sementara untuk lukisan naturalis tokoh-tokoh publik ia banderol Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. ’’Tergantung tingkat kerumitan saat proses produksinya. Semakin lama semakin mahal,’’ tegas bapak tiga anak ini. Untuk bahan baku sendiri, ia kerap menggunakan mebel bekas dengan jenis kayu jati, sengon, sonokeling, nangka, trembesi hingga gembilina.
Tak jarang, ia kerap mencari kayu daur ulang tersebut hingga ke pelosok desa dan luar daerah. Mulai dari Kecamatan Pacet, Trawas hingga Kota Batu, Malang dan Blitar. Semakin lama kayunya, maka tantangan mendaur ulangnya juga semakin tinggi. Tantangan inilah yang memberikan nilai sendiri sehingga kerap ia hargai dengan nominal tinggi. ’’Semakin lama bahan bakunya, maka harus hati-hati dalam membuatnya. Dengan begitu, harga jualnya juga ikut tinggi,’’ pungkasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah