Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Akhmad Fuad, Perajin Spesialis Restorasi Helm Klasik Asal Kota Mojokerto

Fendy Hermansyah • Senin, 19 Desember 2022 | 17:02 WIB
BERKEMBANG BIAK: Achmad Sodiq menunjukkan burung kakaktua yang ditangkarkan di rumahnya di Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (Yulianto Adi Nugroho/Jawa Pos Radar Mojokerto)
BERKEMBANG BIAK: Achmad Sodiq menunjukkan burung kakaktua yang ditangkarkan di rumahnya di Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (Yulianto Adi Nugroho/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Buru Barang Bekas dari Rongsokan, Orisinal Tali pun Ditanyakan Pelanggan

Bagi sebagian orang, helm tak sekadar sebagai pelengkap berkendara. Ia juga menunjukkan selera penggunanya. Seperti helm klasik hasil restorasi Akhmad Fuad, 34, yang laris diburu para kolektor.

YULIANTO ADI NUGROHO, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

Merestorasi helm klasik adalah spesialisasi Akhmad Fuad, 34. Sentuhan tangan kreatif pria asal Lingkungan Kedungkwali Gang III, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto itu mampu mengubah helm-helm jadul yang semula teronggok di gudang rongsokan bernilai jual tinggi. ”Saya cari helm dari tempat loakan di Trowulan. Terus saya perbaiki secara manual,” ujar Fuad mengawali perbincangan, kemarin (18/12).

Ketertarikannya terhadap helm klasik bermula sejak 2016 silam. Sebagai pribadi yang hobi dengan barang antik, dia juga ingin mengoleksi helm-helm jadul. ”Dulu cari di pasar loak Jalan Niaga tapi tidak ada. Akhirnya saya cari ke komunitas-komunitas di Facebook dan barangnya ternyata bagus-bagus,” tuturnya.

Hobi koleksi itu akhirnya berlanjut hingga menjadi bisnis restorasi helm klasik yang digelutinya sekarang. Semua helm jadul yang direstorasi diperolehnya dari gudang barang loak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Helm-helm rusak itu dibeli dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 300 ribu. Variasi harga bergantung tingkat kerusakan dan jenis helm. ”Tergantung kondisi keutuhan helmnya. Saya lihat dulu di tempat loak tingkat orisinalitasnya masih berapa persen,” terangnya.

Helm yang digarapnya antara lain model helm batok, robot, chips, buluk, dan bogo. Sebagian helm merupakan produkan merek motor lawas. Tanpa menghilangkan keasliannya, berbagai jenis pelindung kepala yang populer pada kurun 1970 sampai 1990-an itu lantas dipoles ulang.

Seluruh proses perbaikan helm dilakukannya secara manual. Setelah helm dibersihkan, dia akan mengganti bagian helm yang sudah rusak. Seperti bagian gabus atau kainnya. Tidak ada pewarnaan ulang pada permukaan helm. Fuad menegaskan, hal ini untuk menjaga keaslian helm. ”Terkadang hanya tambal sulam saja. Misal ada yang bocel,” imbuhnya.

Photo
Photo
KLASIK TAPI ASIK: Akhmad Fuad menunjukkan helm jadul garapannya di kediamannya, kemarin. (Yulianto Adi Nugroho/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Fuad mengaku hanya merestorasi helm-helm jadul dengan kerusakan minor. Helm yang sudah retak apalagi pecah tentu tak masuk kualifikasi. Sebab, selain sulit diperbaiki, hasilnya pun sudah pasti tak original lagi. ”Kita mengutamakan orisinalitas helm. Kalau cangkang dan warnanya sudah rusak, tidak saya ambil. Kita perbaiki bagian dalam helm saja,” jelas ayah satu anak ini.

Helm klasik saat ini sedang digandrungi berbagai kalangan. Mulai komunitas motor hingga para remaja yang sedang mengikuti trend. Selain untuk keseharian, jenis helm yang tak lagi bisa ditemukan di pasaran itu banyak dikoleksi. Menurut Fuad, di samping umur helm, tingkat keaslian helm hasil restorasi dengan bentuk aslinya menjadi tolok ukur penggemar helm klasik. Mereka begitu jeli terhadap detail helm yang sedang diburu. Fuad mengaku pernah mendapat pelanggan yang mempermasalahkan keorisinilan tali helm. ”Kalau orang umum kan sepele. Kalau penghobi pasti tanya talinya asli apa tidak. Mereka lebih detail,” tutur pria gondrong ini.

Setali tiga uang, semakin orinisal helm jadul yang dijual, semakin malah pula harganya. Fuad mengaku helmnya pernah dibeli kolektor asal Jateng dengan harga Rp 600 ribu. ”Itu helm tahun 1970-an, dari cangkang sampai busanya masih ori semua,” tandasnya. Ratusan helm klasik hasil restorasi itu dipasarkan lewat toko online Helm Lawas miliknya. Jenisnya beraneka ragam. Harganya dari Rp 250-600 ribu. ”Seminggu saya bisa buat sampai tujuh helm,” beber Fuad sembari menyebut pelangganya sudah menyentuh luar pulau.

Dalam sebulan, Fuad mengaku bisa mendapat omzet Rp 2-4 juta. Dia optimistis bisnis ini bakal terus berlanjut mengingat penggemar helm klasik kian banyak. ”Selan pasarnya bagus, saya juga memang hobi helm klasik. Jadi saya yakin ke depan bisa konsisten,” ucapnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#tol mojokerto #kabupaten mojokerto #Majapahit #mojokerto kota #kota onde-onde #pacet mojokerto #boks #kerajaan majapahit #wisata mojokerto #Kota Mojokerto #mojokerto #perajin helm #soekarno #onde-onde