Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Agus Santoso, Perajin Wayang Berbahan Sak Semen

Fendy Hermansyah • Jumat, 11 November 2022 | 14:54 WIB
MENINGKAT: Siti Aminah menunjukkan hasil produksi cincau hitam olahannya.
MENINGKAT: Siti Aminah menunjukkan hasil produksi cincau hitam olahannya.
Mirip Tekstur Kulit, Diyakini Lebih Tahan Cuaca

Di tangan Agus Santoso, 48, sak semen bekas bisa dikreasikan menjadi kerajinan wayang bernilai seni tinggi. Meski berasal dari bahan kertas, namun karakter dan tekstur fisik menyerupai bahan kulit hewan yang lazim jadi bahan dasar wayang purwa.

RIZAL AMRULLOH, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

KAMIS (10/11) siang, Agus baru saja pulang memesan supit untuk menyelesaikan kerajinan wayang yang dibuat di rumahnya di Lingkungan Balongrawe Baru RT 02/RW 05, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Uniknya, wayang dibuat bukan berasal dari kulit kerbau maupun sapi, melainkan dari bahan dasar karung kertas atau sak semen. ”Baru sekitar setahunan ini menggunakan sak semen,” terangnya memulai pembicaraan.

Ayah tiga akan ini menyebut terinspirasi menggunakan bahan sak semen bekas dari temannya yang juga perajin wayang. Dia pun mencoba untuk memesan bahan baku yang didatangkan dari Nganjuk.

Agus mengaku awalnya memilih sak semen untuk menekan biaya bahan baku dibanding menggunakan kulit. Selain itu, bahan karung semen juga mudah didapatkan sewaktu-waktu. ”Kalau kulit kan lama pesannya. Bahannya ada, cuma seminggu sampai dua minggu baru bisa datang,” tandasnya.

Dia mengaku langsung kepincut menggunakan bahan dasar sak semen karena memiliki karakter dan fisik menyerupai kulit. Menurutnya, salah satu kelebihannya adalah memiliki kelenturan yang fleksibel sehingga tidak mudah patah atau robek.

Sehingga, kata dia, permukaannya juga lebih mudah dibentuk dengan alat tatahan untuk membentuk detil-detil pada wayang. ”Jadi, pengerjaannya persis kulit, cara natanya pun sama,” imbuh pria Kelahiran Kediri 24 Maret 1973 ini.

Dijelaskan Agus, bahan baku tersebut berasal dari bekas karung kertas semen. Namun, lebih dulu dilakukan perendaman untuk membersihkan sisa-sisa kotoran. Kemudian, tiap lembaran dilem untuk dilapisi hingga 5-7 lapisan.

Pengeringan hanya dilakukan dengan cara diangin-anginkan agar tidak membuat permukaan sak semen berkerut. ”Sebenarnya cukup simpel, cuma butuh ketelatenan,” imbuh perajin wayang yang belajar secara otodidak sejak kecil dari ayahnya ini.

Sehingga, bahan sak semen tersebut bisa digunakan untuk membuat berbagai karakter wayang. Baik gunungan, tokoh wayang purwa, hingga butha. Proses produksinya pun tak jauh berbeda dengan wayang kulit pada umumnya.

Agus memulai dari membuat mal, kemudian memotongnya mengikuti lekukan karakter wayang. Selanjutnya, permukaan ditata menyesuaikan pakem dari masing-masing tokoh wayang dan sentuhan akhir dengan pengecatan.

Setiap item wayang, Agus membutukan waktu sekitar seminggu. ”Itu pun kalau dikerjakan rtin setiap hari,” tandas pria yang sehari-hari berjualan cilok keliling ini.

Setiap item wayang sak semen dia mamatok sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Harga tersebut terpaut jauh dibanding wayang kulit yang dijual rentang harga Rp 700-Rp 800 ribu per karakter.

Dengan pemanfaatan penjualan secara online, Agus mampu menembus pasar hingga Tanggeran, Bekasi, maupun Jakarta. Bahkan, beberapa karyanya juga pernah dipesan dari Lampung.

Meski berbahan kertas sak semen, wayang tak sekadar untuk pajangan. Karena tak jarang dia juga menerima pesanan dari sejumlah dalang. ”Ada yang memang digunakan untuk pementasan wayang,” imbuhnya.

Terlebih, bahan dari sak semen juga diklaim lebih tahan cuaca. Karena wayang tidak mudah mengeras saat cuaca panas, maupun lembab saat penghujan. ”Jadi tidak mudah terpengaruh suhu. Baik cuaca panas maupun hujan tetap tidak berubah bentuknya,” pungkas Agus (ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#sak semen #bahan sak #Majapahit #kota #wayang #kertas semen #mojokerto #trowulan #onde-onde