Insiden pertandingan sepak bola yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu lalu (1/10) menggugah hati banyak masyarakat. Tak terkecuali, Lintang Budiyanti Prameswari dan Aprilia Hermianti. Dua anak muda asal Mojokerto ini ikut mendedikasikan karya mereka sebagai ungkapan duka cita.
INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
Hampir setiap detik ibu membuka pintu,
Menyibak tirai jendela, mondar-mandir di beranda
Berharap ada kabar baik dari tetangga
Melihat dan meratap di sepasang sepatu sekolahmu
Berharap esok Senin masih kau kenakan seragam putih biru itu
Tapi kau tidak pulang
Tergeletak di gelanggang
Ricuh dan berisik di televisi
Ibu masih menanti suara piringmu meminta sarapan esok hari
ITULAH sepenggal puisi karya Lintang Budiyanti Prameswari yang viral di medsos. Bahkan, mendapat apresiasi dari Dahlan Iskan. Puisi ini lahir setelah insiden kelam di Stadion Kanjuruhan yang menelan ratusan nyawa. ”Ya, nggak nyangka saja sampai ditelepon sama Pak Dahlan Iskan. Awalnya sudah mau berangkat kerja jadi panik,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto membuka percakapan.
Diceritakan remaja asal Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini, ia terinspirasi menciptakan puisi berjudul ”Sepasang Sepatu di Beranda Rumah Ibu” karena keprihatinannya terhadap para korban. ’’Karena trenyuh lihat berita tentang Kanjuruhan itu. Apalagi berita tentang ibu yang menangis karena anaknya meninggal itu, jadi seolah menghayati pas nulis puisi,” ucapnya.
Lintang memang sejak kecil hobi menulis. Itu berangkat dari kebiasaannya yang dari kecil selalu diajari membaca oleh orang tuanya. ”Tiap malam didongengin terus sama mama. Nah, pas mama masih sibuk kerja, saya juga ingin baca bukunya sendiri jadi biar nggak lihat gambarnya saja. Waktu itu umur dua tahun ngotot ingin sekolah biar bisa baca,” paparnya.
Berangkat dari hobi membaca, Lintang akhirnya terjun di dunia tulis menulis saat duduk di bangku SD. Kebiasaannya menulis terus berkembang hingga ia masuk kuliah di Universitas Telkom Bandung. Bahkan, tulisannya beberapa kali masuk dalam karya buku antologi. ”Banyak yang bilang hobi menulis ini keturunan mama. Karena mama dulu seorang wartawan,” katanya.
Selain puisi, Lintang juga pernah menulis artikel di beberapa blog online. Bahkan, dia juga aktif mengikuti lomba menulis. Sejauh ini, karya yang paling membekas bagi Lintang yakni tulisannya yang berjudul ”Waktu Itu Aku Bukan Kesurupan”. Tulisan tersebut bertema tentang kesehatan mental yang diilhami dari pengalaman pribadinya. ”Waktu itu saya buatnya karena kondisi saya yang waktu itu juga terpuruk, sudah dibukukan sekarang. Ternyata banyak yang suka,” imbuhnya.
Terkait puisi viralnya, Lintang membeberkan pembuatan karya ”Sepasang Sepatu di Beranda Rumah Ibu”. Awalnya tanpa perencanaan. Bermula dari Aprilia Hermianti, sang ilustrator gambar, merasa resah karena tak bisa tidur. Sehingga, ia menuangkan keresahannya itu melalui gambaran peristiwa tentang insiden Stadion Kanjuruhan. ”Karena saya sudah gambar, Lintang saya suruh buat puisi dengan tema sepatu anak kecil yang jadi korban tragedi Kanjuruhan itu. Kita kontak-kontakan dini hari lewat Whatsapp,” sambung Apeng, panggilan akrab Aprilia.
Butuh waktu sepuluh menit bagi Lintang untuk merangkai puisi tersebut. Sebab, memang keduanya seharian terus memantau berita terkait insiden Kanjuruhan yang menelan ratusan korban jiwa itu. Sedang untuk proses menggambarnya, April mengaku dia sudah merancangnya selama empat jam. ”Buatnya selesai tanggal 2 kemarin, lalu tanggal 3 Oktober pas diposting ternyata ramai. Sampai di repost berkali-kali sama akun yang bukan kenalan kami,” ungkap warga Kecamatan Sooko itu.
Sejak diunggah empat hari lalu, karya digital yang diunggah di akun Instagram @lintangbudiyanti dan @apriliaapeng tersebut viral dan disukai banyak netizen. Terbukti, postingan tersebut sudah dijangkau sebanyak 14.341 kali dan disukai 1.235 orang dan diposting ulang sebanyak 15.747 ribu. ”Juga banyak Aremania yang posting karya kami di akun masing-masing. Nggak nyangka (Lintang) bisa sampai dihubungi pak Dahlan Iskan juga,” tandas Apeng.
Lintang dan Apeng memang sering berkolaborasi membuat karya. ”Sepasang Sepatu di Beranda Rumah Ibu” merupakan karya hasil kolaborasi ketiga dari duanya. Karya pertama yang dibuat oleh mereka berjudul ’’Entah Kemana” dan ”Satu-satu”. Semua karya tersebut hasil diskusi keduanya dan diunggah ke akun Instagram. ”Karena Lintang hobi menulis, saya menggambar ya, akhirnya kami putuskan kolaborasi. Itu pun pasti pembuatannya dadakan dan gak pernah terencana,” pungkasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah