Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menilik Kampung Kutang Klasik di Desa Banyulegi

Fendy Hermansyah • Sabtu, 17 September 2022 | 20:59 WIB
TETAP EKSIS: Peni saat memproduksi pakaian dalam khas Jawa klasik atau kutang di rumahnya Dusun/Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
TETAP EKSIS: Peni saat memproduksi pakaian dalam khas Jawa klasik atau kutang di rumahnya Dusun/Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Tetap Eksis meski Minim Regenerasi

Dusun/Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong menjadi kampung penghasil kutang selama puluhan tahun. Uniknya, pakaian dalam kaum hawa itu tetap dipertahankan dengan bahan baku dan desain klasik. Sayang, minimnya regenerasi membuat industri rumahan ini tergerus produk modern.

RIZAL AMRULLOH, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

DERU mesin jahit menjadi penyambut saat memasuki Dusun/Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Seorang perempuan lanjut usia nampak jeli memasukkan benang ke lubang jarum. Kakinya kemudian dikayuh untuk memutar engkol mesin tua guna menjahit potongan-potongan kain.

Peni, 72, menjadi salah satu dari puluhan penjahit yang masih eksis menjadi perajin pakaian dalam perempuan di Banyulegi. Dia telah menekuninya hampir empat dekade terakhir ini. ”Buat baju dalam atau kutang mulai 1985 sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Uniknya, produk yang dihasilkan nenek empat cucu ini terbilang sudah cukup langka di pasaran. Sebab, Peni hanya membuat desain pakaian dalam khas Jawa klasik atau yang juga dikenal juga dengan kutang Suroso.

Ya, kutang yang identik pada perempuan era 1960-an hingga kini rupanya masih diminati. Meskipun, jumlah permintaan kian tahun terus menyusut akibat kalah bersaing dengan produk pabrikan yang lebih modern.

Karena itu, Peni kini hanya memproduksi 3-4 buah saja per hari. Itu pun kalau kondisi badannya sedang sehat. ”Dulu, sehari bisa 8 sampai 10,” tandas dia.

Sejak awal merintis 37 tahun silam, dia tetap mempertahankan desain klasik. Nyaris tidak ada perubahan yang signifikan baik dari sisi model dan bahan baku. Hanya saja, di tahun 2000-an dia menambah sentuhan ritsleting sebagai tempat menyimpan barang berharga. ”Untuk menaruh uang,” papar dia.

Terdapat tiga tipe produk yang dihasilkan. Masing-masing untuk kelompok umur remaja, dewasa, dan untuk lansia. Sejauh ini, home industry buatannya dipasarkan di sejumlah daerah. ”Peminatnya ada yang usia usia 30-40 tahun, yang muda dan tua juga masih ada,” imbuhnya.

Sementara itu, Subadi, perajin lainnya menambahkan, di desa ini, kutang pernah diproduksi di 72 rumah penduduk. Namun, minimnya regenerasi membuat produktivitas di kampung ini menurun drastis. ”Sekarang hanya tinggal 20-an saja, itu pun usianya sudah di atas 50 tahun semua,” tambahnya.

Selain pamornya kalah dengan model bra modern, murahnya harga penjualan juga menjadi pemicu minimnya peminat. Sebab, harganya sulit beranjak dari kisaran Rp 7.500 sampai paling tinggi Rp 10 ribu per buah.

Di samping itu, pangsa pasar kini juga mulai menyempit. Di awal produksi 1980-90an, produk kutang klasik bisa menembus hingga Jawa Tengah dan Pulau Dewata. Namun, saat ini hanya dipasarkan di daerah sekitar Jatim. ”Jadi dipasarkan di lokalan saja,” tandasnya.

Terkait bahan dasar, sejauh ini Subadi mengaku belum menemui kendala. Karena para perajin memanfaatkan sisa potongan kain dari konveksi di Surabaya yang dibeli per kilogram (Kg). (ron)



Editor : Fendy Hermansyah
#perajin kutang #boks jprm