KHUDORI ALIANDU, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto
’’Semua kaligrafi ini karya pribadi saya,’’ kata Umi Sholikha, 42, mengawali perbincangan sambil menunjukkan karyanya yang dipajang di ruang tamunya. Sekilas, kaligrafi yang terpajang ini tak berbeda dengan kaligrafi pada umumnya.
Namun ketika diperhatikan secara detail, ternyata terlihat unik karena berbahan benang dan jarum. ’’Ini namanya teknik string art. Sampai saat ini masih sedikit yang mengerti dan menekuni teknik ini. Dan banyak diminati masyarakat, khususnya untuk hiasan interior rumah,’’ tegasnya.
String art merupakan susunan benang berwarna yang dirangkai di antara titik-titik untuk membentuk pola yang bernilai seni tinggi. Warga Dusun Ngares, Desa Ngareskidul, Kecamatan Gedeg ini menceritakan, peluang menjanjikan ini ditangkapnya sejak 2018.
Saat itu, ibu rumah tangga ini berinisiatif mencari kesibukan yang produktif untuk mengisi waktu. Sambil berselancar di dunia maya, dia akhirnya menemukan tutorial membuat string art. ’’Di Indonesia ini kan mayoritas beragama Islam. Jadi hemat saya, kaligrafi ini pastinya juga menjadi salah satu kebutuhan. Alhamdulillah laris juga,’’ tutur Umi.
Kali pertama membuat, ia membutuhkan waktu hingga sebulan lebih untuk merampungkan kaligrafi ayat kursi berukuran 60x120 centimeter. Saat itu, pengerjaannya diwarnai bongkar pasang karena tak beraturan. Namun, dengan berjalannya waktu, untuk menghasilkan satu karya kaligrafi, kini hanya butuh waktu beberapa hari saja. ’’Kalau sekarang, untuk satu set lafal Allah dan Muhammad, tiga hari selesai,’’ cetusnya.
Hingga kini, peluang ini masih cukup bagus di pasaran. Pesanannya yang terus mengalir menjadikan hari-harinya selalu disibukkan dengan membuat karya untuk dikirim ke Raya Gallery di Sidoarjo di mana dia telah menjalin kerja sama.
Benang yang digunakan berjenis lumiere. Benang ini lebih bersinar. ’’Kebanyakan warna yang saya pakai warna emas dan perak. Tetapi tergantung pesanan juga jika menginginkan warna yang lain, jadi bisa request,’’ tegasnya.
String art ini tentu berbeda dengan teknik lainnya. Selain membutuhkan konsentrasi tinggi, juga membutuhkan beberapa tahapan untuk bisa menghasilkan karya yang antik dan punya nilai seni.
Diawali dengan membuat sketsa di atas bidang media triplek dan kain beludru. Selanjutnya, proses memasang jarum paku atau pentul. Kemudian, dirinya harus membuat tarikan benang lalu dikaitkan antara paku ke paku yang lain sehingga membentuk tulisan kaligrafi. ’’Namun dengan proses yang panjang ini, saya puas dengan hasilnya. Nilai keunikan kaligrafi juga bertambah kalau pakai benang dan jarum,’’ ujarnya.
Untuk membuat karya ini, Umi tak butuh modal besar. Hanya dengan Rp 30 ribu, dia mampu membuat satu set lafal Allah dan Muhammad. Sementara, harga jualnya dibanderol Rp 400 ribu tiap paket. Sedangkan, untuk ayat kursi bergambar kapal dengan ukuran 60x120 centimeter dipasang tarif hingga Rp 1,5 juta. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah