Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mubin Supanji, Ubah Limbah Jadi Berbagai Kerajinan

Fendy Hermansyah • Sabtu, 18 Juni 2022 | 19:45 WIB
KREATIF: Mubin Supanji menunjukkan hasil kerajinan tangannya di rumahnya Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Jumat (17/6).
KREATIF: Mubin Supanji menunjukkan hasil kerajinan tangannya di rumahnya Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Jumat (17/6).
Dikerjakan Bersama Istri, Mampu Tembus Pasar Merauke

Di tangan Mubin Supanji, bahan limbah kayu palet bisa disulap jadi barang cantik. Dari tangannya yang kreatif, dia mampu membuat berbagai kerajinan bernilai ekonomis tinggi.

KHUDORI ALIANDU, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

SELAMA menekuni kerajinan berbahan kayu Jati Belanda ini, warga Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini hanya berkolaborasi dengan istrinya, Yunia Vivi Ayu Lestari. ’’Sudah sejak 2019 saya menekuni kerajinan ini,’’ katanya mengawali perbincangan.

Berbekal ketekunan yang diajarkan pemuda karangtaruna desa setempat pada 2004, belakangan membuat dirinya mampu menyulap limbah palet menjadi berbagai kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Mulai dari rak dinding, ambalan ukir, nomor rumah, huruf dan angka kayu, serta sejumlah hiasan dinding lainnya. ’’Dan yang terbaru saya buat suvenir kaligrafi lafal Allah dan Muhammad untuk oleh-oleh ibadah haji,’’ ungkapnya.

Dengan dibukanya ibadah haji tahun ini, membuatnya ikut ketiban untung. Belakangan dirinya dapat pesanan sekitar 400 paket kaligrafi dari calon jamaah haji (CJH) yang berangkat ke tanah suci tahun ini. Angka itu berpotensi bertambah seiring kualitas dan harga yang bersaing. ’’Per paketnya Rp 30 ribu. Alhamdulillah, rencana ada tambahan 100 paket lagi,’’ ujarnya.

Untuk menyelesaikan pesanannya, ia mengaku berkolaborasi dengan sang istri. ’’Saya yang mengerjakan pemotongan awal sama finishing. Istri bagian ngukirnya,’’ tambahnya.

Selain menyelesaikan pesanan dalam jumlah besar, dirinya juga masih terus memproduksi sejumlah jenis hiasan dinding rumah untuk dipasarkan secara online. Tiap waktu, pesanan pun terus mengalir. Tak hanya konsumen lokal Mojokerto, melainkan banyak juga yang dari luar kota. ’’Kalau wilayah Jawa Timur hampir sudah merata. Kalau paling jauh pernah kirim ke Merauke, Ambon, NTT, Bali, Banjarmasin, dan Bandung,’’ beber pria kelahiran 8 Juli 1989 ini.

Dari berbagai kerajinan buatannya, hiasan dinding rak hexagonal masih cukup mendominasi. Selain bisa menjadi tempat bunga, foto, dan miniatur hiasan rumah, juga bisa jadi rak bumbu. Harganya pun dibanderol bervariatif menyesuaikan seberapa besar pesanan. Makin banyak makin murah. ’’Paling murah angka dan huruf, satu kata Rp 5 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau daun monster ukiran juga ada, harganya Rp 25 ribu, love juga ada,’’ paparnya.

Kerajinan yang dihasilkan juga tak monoton, sambil berjalan, dia selalu update dan mengikuti tren pasar dengan berselancar di sosial media. Meliputi, Instagram, TikTok, dan Facebook. Seperti saat masyarakat banyak yang menggandrungi furnitur meja dan segala asesoris di kafe. Saat itu, dirinya juga harus membuat berbagai modelnya. Agar lebih cantik, dirinya harus melakukan pembakaran tiap hasil produknya menggunakan gas torch.

’’Pokoknya pembeli bisa request, harga menyesuaikan. Bahan dasarnya Jati Belanda. Kayu bekas palet, jadi tidak terlalu dipilih-pilih, yang penting masih terlihat bagus. Seratnya juga bagus,’’ tuturnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#features #kerajinan tangan #boks radar mojokerto #kerajinan kayu