Kesenian ujung menjadi salah satu yang terdampak kebijakan pandemi Covid-19. Terutama dibatasinya pagelaran seni. Kini, kebijakan itu sudah diperlonggar. Lantas bagaimana geliat salah satu kesenian dari Kabupaten Mojokerto ini?
MARTDA VADETYA, Ngoro, Jawa Pos Radar Mojokerto
SIANG itu, teriknya matahari seolah tak mengurangi tingginya antusias warga menyaksikan pagelaran ujung di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Ditambah gamelan yang menggema seolah memikat masyarakat untuk datang menyaksikan kesenian ini. Apalagi, pementasan seni tari dengan gerakan memukul badan lawan yang bertelanjang dada dengan sebilah rotan sepanjang satu meter itu sudah lama tidak digelar.
Ratusan warga dari sejumlah desa datang memadati lokasi hajatan salah seorang warga Desa Kutogirang itu. Bukan hanya kaum adam, para emak-emak pun tak mau kalah menonton di barisan depan. Bukan hanya warga dari luar desa, sejumlah pedagang pun turut menggelar lapak di sekitar lokasi.
Sorak sorai dari penonton seolah membawa energi tersendiri bagi mereka yang naik ke atas panggung laga berukuran sekitar lima meter persegi itu. ”Sudah lama gak ada (pagelaran) ujung ini. Waktu libur begini ya langsung berangkat. Tadi sekitar pukul 09.00 sampai sini. Belum mulai, masih pemanasan,” ujar Eko, salah seorang penonton dari Desa Lolawang.
Berbeda dengan tarian lainnya. Ujung dibuka untuk umum. Penonton mau pun undangan dipersilakan naik ke medan laga. Bisa dikatakan, itu menjadi nilai lebih dari ujung ketimbang kesenian lainnya. Sebab, adrenalin penonton turut terpacu saat melihat kedua pemain saling serang.
Meski di antara pemain tidak berbekal latihan maupun ilmu bela diri. ”Serunya itu pas mereka pecut-pecutan. Mereka nyerangnya murni, sakitnya juga beneran,” kata pria yang pernah turut tampil sekali itu.
Namun, keseruan kesenian itu seolah baru bisa kembali dinikmati masyarakat beberapa bulan belakangan. Sebab, selama dua tahun diterpa pandemi Covid-19, kesenian itu terhenti. Tak lain karena sejumlah kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level yang diberlakukan selama penularan Covid-19 merajalela. ”Jadi ya gak ada pementasan sama sekali. Mulai dari karawitan, campur sari, pencak silat, ujung, gak ada tanggapan sama sekali. Nol,” ujar Bobby Dwi Arjuna, pimpinan Kelompok Seni Karawitan dan Ujung Arjuna Budoyo.
Selama masa vakum, sekitar 100 anggotanya hanya menggelar latihan bersama dua kali dalam sebulan. Menurutnya, saat itu merupakan masa-masa sulit bagi seniman. Beruntung, berkat kesolidan antaranggota, tidak ada satu orang pun yang ’’mutung”. ”Mereka gak sampai ada yang keluar. Kalau sambat itu pasti. Wajar saja kan memang kondisinya lagi sulit,” sebutnya.
Dikatakannya, itu berbanding terbalik saat sebelum pandemi melanda. Dalam sehari, kelompok ini bisa mendapat tiga job berbeda. Bahkan, pihaknya menggelar pentas hingga ke ibu kota. ”Dulu sehari bisa tiga kali. Pagi, sore, malam. Manggungnya ya gitu, paling jauh Jakarta sama Cirebon,” ujar pria 25 tahun itu.
Meski begitu, saat ini para seniman sudah bisa sedikit tersenyum. Sebab, sejak Kabupaten Mojokerto menginjak Level 1 pementasan seni sudah diizinkan digelar. Walau tak seperti sebelum masa pandemi melanda, pementasan seni ujung mulai bergeliat kembali. ”Sekarang sebulan bisa empat kali. Paling rame tanggapan ya pas Lebaran, besaran, sama suroan,” tandas pemuda pimpinan sanggar yang bermarkas di Desa Srigading, Kecamatan Ngoro tersebut. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah