Kebijakan menjalankan ibadah dengan kapasitas seratus persen pada Waisak tahun ini, membuat umat Buddha bersukacita. Tak terkecuali, Domingo Enrique Grande yang rela datang bersama rombongannya ke Mahavihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Turis asal Spanyol ini mengaku, Waisak tahun ini menjadi refleksi dirinya untuk mencapai kedamaian yang lebih sejahtera.
INDAH OCEANANDA, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto
MEMAKAI busana putih dan kain batik, Domingo Enrique Grande alias Domi tampak khusyuk menjalankan prosesi Pradaksina di Mahavihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, kemarin. Bersama empat orang temannya, dia tak sungkan berbaur dengan umat Buddha yang juga ikut merayakan Waisak 2566 BE ini. Bahkan, dalam meditasi bersama para bante, Domi terlihat sangat menikmati suasana tersebut. ”Ini ketiga kalinya saya mampir ke Mahavihara Mojopahit,” ujarnya usai merampungkan rangkaian ibadah Waisak.
Domi menuturkan, pertamakalinya ia menginjakkan kaki di wihara tersebut pada 2016 silam. Waktu itu, ia berangkat dari Surabaya bersama teman-temannya yang tergabung dari Klub Taekwondo Surabaya. Namun, saat pandemi Covid-19, ia hanya bisa beribadah di wihara Surabaya. ”Baru ke sini lagi dua minggu lalu, dan ini ketiga kalinya. Karena sekarang sudah bisa beribadah penuh,” tuturnya.
Pria 35 tahun ini menceritakan, tak hanya karena kebijakan beribadah yang mulai longgar. Dia memilih Mahavihara Mojopahit sebagi tempat beribadah tahun ini, karena ingin lebih mendekatkan diri dengan sang Buddha. Domi mengaku, selama meditasi di wihara tersebut, ia menemukan ketenangan dari hiruk pikuk kesehariannya.
”Saya begitu menikmati proses meditasinya, karena dari meditasi ini saya menemukan ketenangan batin dan bisa mengkoreksi diri saya sendiri,” kata pria yang menetap di Indonesia hampir 2,5 tahun di Surabaya ini.
Masih kata Domi, Waisak tahun ini tak hanya mendatangkan ketenangan batin. Namun, juga mengajari ia tentang refleksi hidup. Termasuk berbagi kepada sesama dan tidak menyakiti mahluk hidup.
Pasca menjalani ibadah di Mojokerto, Domi mengaku langsung balik ke Surabaya. Sebab, ia harus melanjutkan berlatih taekwondo bersama timnya. ”Tapi setelah ini saya makan siang dulu, sekaligus ikut donor darah kalau berani,” ujarnya sembari tertawa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lumbini yang menaungi Mahavihara Mojopahit Rudy Budiman menuturkan, perayaan tahun 2566 BE ini digelar dengan penuh. Itu setelah terjadi pembatasan jamaah pada peribadatan selama masa pandemi Covid-19. ’’Tahun ini, umat yang datang cukup banyak dibandingkan dua tahun lalu, karena memang sudah diperbolehkan untuk beribadah 100 persen,’’ ujarnya.
Masih kata Rudy, umat yang beribadah di Mahavihara Mojopahit tak hanya dari Mojokerto. Melainkan juga ada yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Surabaya dan Sidoarjo. ’’Peribadatan kita buka untuk umum, jadi tahun ini umat darimana pun bebas beribadah di sini,’’ ulasnya. Adapun, total umat yang melaksanakan ibadah Waisak di Mahavihara Mojopahit kisaran 150-200 orang. Terdiri dari anak-anak dan dewasa. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah