Bulan suci menjadi berkah bagi Siti Aminah. Perajin cincau hitam asal Dusun/Desa Medali, Kecamatan Puri, ini mengalami peningkatan permintaan hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Untuk persiapan Ramadan, dia menyetok 4 kuintal bahan baku senilai jutaan rupiah.
RIZAL AMRULLOH, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto
BELUM kering peluh Siti Aminah usai berjualan di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko. Ibu empat anak ini langsung ke dapur mempersiapkan cincau hitam yang akan dijual keesokan harinya. Ya, Ramadan memang menjadi berkah tersendiri baginya.
Di bulan suci ini, Siti harus bekerja ekstra dari hari biasanya. Maklum, permintaan makanan olahan yang dikenal dengan janggelan itu memang menjadi salah satu menu favorit saat berbuka puasa. Di pekan pertama Ramadan ini saja, permintaannya sudah meningkat tiga kali lipat dibanding sebelumnya. ’’Biasanya peningkatan penjualan memang di awal-awal puasa gini. Nanti menjelang Lebaran berangsur normal lagi,’’ terangnya sambil mengaduk olahan cincau hitam di dapur rumahnya.
Siti menyebutkan, sebelum Ramadan, penjualan cincau hitam rata-rata hanya menghabiskan 3 kaleng ukuran sekitar 25-35 sentimeter per hari. Namun, di bulan puasa ini, permintaan melonjak hingga 10 kaleng per hari.
Karena itu, dapur Siti seolah tak pernah berhenti mengepul. Setiap hari, dia harus rutin memproduksi makanan yang terbuat dari tanaman dan daun cincau hitam tersebut. Bahkan, perajin yang sudah merintis usaha pengolahan cincau hitam sejak 1979 itu telah menyiapkan stok bahan baku sebanyak 4 kuintal untuk persiapan Ramadan tahun ini. ’’Bahan baku kiriman dari Magetan, saya beli Rp 11 juta sebelum bulan puasa kemarin,’’ tandasnya.
Siti masih mempertahankan produksi dengan cara tradisional. Mulanya, bahan baku daun janggelan kering direbus dengan menggunakan tungku api kayu bakar. Setelah mendidih, air kemudian berubah warna menjadi hitam pekat. Untuk membantu kekenyalan, dia menambahkan tepung sagu sebelum olahan ditiriskan. ’’Jadi semuanya alami, tanpa ada campuran bahan pengawet,’’ tutur perempuan asli Jombang ini.
Proses pengolahan tersebut menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Selanjutnya, air rebusan disaring dan dicetak ke dalam wadah seukuran kaleng kerupuk warteg. Adonan itu lalu dibiarkan semalam hingga suhu air menjadi dingin dan teksturnya mengenyal seperti agar-agar.
Menurutnya, cara pengolahan yang diwarisi secara turun temurun dari keluarganya itu yang membuat rasa janggelan tidak berubah selama empat dekade terakhir. Biasanya, cincau hitam dijadikan sebagai bahan campuran minuman es sebagai pelengkap hidangan berbuka puasa.
Jerih payah yang dilakukan Siti Aminah berbuah berkah di Ramadan. Setidaknya, di awal bulan suci ini dia mampu meraup omzet sekitar Rp 450-500 ribu per hari. ’’Alhamdulillah tahun ini mulai ada peningkatan dibanding Ramadan tahun lalu. Tapi sebagian penghasilan saya sisihkan tiap hari untuk diputar lagi buat beli bahan baku setelah Lebaran nanti,’’ tandas dia. (abi)
Editor : Fendy Hermansyah