KOTA – Ruang multimedia SMPN 7 Mojokerto mendadak disulap menjadi dapur redaksi, kemarin (9/2). Ini setelah puluhan siswa kelas 7 dan 8 tampak bersemangat mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) dalam program Jurnalis Mengajar.
Bertemakan Menjadi Jurnalis dalam Waktu 60 Menit, kegiatan tersebut diawali pembukaan oleh Kepala SMPN 7 Mojokerto Evi Poespito Hany. Dia menyatakan, program Jurnalis Mengajar ini menjadi kegiatan yang penting bagi siswa.
’’Hari ini (kemarin, Red) kalian semuanya ini diajak untuk menjadi penulis dan diajari trik-triknya bagaimana menjadi penulis yang baik. Harapannya, nanti ketika ada lomba menulis, baik itu nulis cerpen atau nulis cerita yang lain atau nulis berita, kalian bisa ikut dan menjadi juara,’’ bebernya.
Bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 sekaligus menyambut anniversary ke-25 JPRM, Evi menuturkan, kegiatan ini memberikan bekal penting bagi siswa dalam hal literasi digital dan kemampuan berekspresi secara bertanggung jawab.
Oleh karenanya, ia berharap para siswa dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk mengembangkan kreativitas secara bijak, baik melalui tulisan maupun konten video. ’’Siapkan diri kalian untuk benar-benar menjadi seorang jurnalis, sehingga kemampuan komunikasi kalian, baik lisan maupun tulisan bisa meningkat lagi,’’ pesannya.
Kegiatan pun dilanjutkan dengan pemaparan materi jurnalistik dasar oleh wartawan JPRM Farisma Romawan. Selama 30 menit pemberian materi, siswa tampak antusiasme dan responsif. Mereka diajak mengenal struktur berita, cara melakukan wawancara, hingga memahami kode etik jurnalistik.
Farisma menuturkan, pelatihan ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan jurnalistik sekaligus menumbuhkan literasi media di kalangan pelajar. ”Dengan pelatihan ini, kami berharap siswa menjadi generasi yang lebih kritis dan kreatif dalam menyikapi informasi,” ujarnya.
Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing. Menyebarkan semangat literasi dan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya informasi yang benar. ”Siswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga memahami bagaimana memilah informasi yang akurat di tengah derasnya arus media digital,” tambah Farisma. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah