Diolah Sendiri, Nilai Jual Kopi Trawas Mojokerto Melonjak hingga 12 Kali Lipat

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 20:52 WIB
UNTUNG BESAR: Gapoktan memanen biji kopi jenis arabika di areal perkebunan Gunung Arjuno-Welirang, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
UNTUNG BESAR: Gapoktan memanen biji kopi jenis arabika di areal perkebunan Gunung Arjuno-Welirang, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

SEMENTARA itu, petani kopi di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas tak lagi sekadar menjual hasil panen dalam bentuk buah kopi. Melalui pengolahan mandiri, nilai jual kopi arabika asal lereng Gunung Welirang itu meningkat berkali-kali lipat, sekaligus membuka peluang pasar yang semakin luas. 

Humas Kelompok Tani Kopi Bon Tugu Desa Ketapanrame Luluk Indah mengatakan, kelompok yang beranggotakan sekitar 40 petani tersebut mengelola seluruh proses produksi. Mulai dari panen, pengolahan, hingga menjadi kopi siap seduh. 

Di tingkat petani, kopi ceri atau buah kopi basah dijual sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Setelah diolah menjadi green bean, harganya meningkat menjadi Rp 170 ribu per kilogram. Sementara kopi yang telah disangrai dan siap diseduh dipasarkan sekitar Rp 250 ribu per kilogram. ’’Kami ingin nilai tambahnya bisa dinikmati petani. Karena itu, kopi tidak langsung dijual setelah dipanen, tetapi diolah terlebih dahulu,’’ ujar Luluk, Minggu (5/7). 

Kelompok tani menerapkan tiga metode pengolahan, yakni honey, full wash, dan natural. Metode honey menghasilkan cita rasa yang lebih kuat melalui proses fermentasi setelah pengupasan kulit buah. Metode full wash menghasilkan rasa yang lebih halus karena biji dicuci hingga bersih, sedangkan metode natural dilakukan dengan menjemur buah kopi, sehingga menghadirkan karakter rasa yang khas.

Permintaan pasar terhadap kopi Trawas terus meningkat. Saat musim panen Mei hingga Juli, hasil panen menjadi rebutan pengepul dari Trawas maupun daerah lain. Produk kopi Bon Tugu kini juga dipasarkan ke berbagai kafe serta menjadi binaan Bank Indonesia (BI). ’’Kalau sekarang ini istilahnya sudah pada rebutan minta kopi Trawas,’’ ucap Indah. 

Bahkan, kelompok tani mendapat permintaan pasokan sekitar satu ton green bean setiap bulan. Namun, kapasitas produksi belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. ’’Dari Beijing (Tiongkok) ada tawaran permintaan seperti itu. Tapi, produksi kami belum bisa memenuhinya,’’ imbuhnya. 

Produktivitas kopi arabika di Ketapanrame saat ini mencapai sekitar satu ton per hektare (ha). Tahun ini, total produksi diperkirakan mencapai 10 ton dari lahan seluas 18 ha, meningkat dibanding tahun lalu yang hanya sekitar lima ton dari lahan 15 ha akibat cuaca ekstrem. 

Dalam satu musim produksi, biaya perawatan tanaman sejak masa berbunga hingga panen berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per lahan, di luar biaya pemupukan. Besarnya biaya tersebut menjadi salah satu investasi yang harus dikeluarkan petani untuk menjaga kualitas hasil panen. ’’Sekarang cuaca bagus jadi hasil panen melimpah. Kalau tahun lalu, cuaca jelek, sering hujan dan angin. Itu membuat produksi kopi menurun,’’ beber Indah. 

Selain perubahan iklim, petani juga menghadapi kendala penebangan pohon pinus di kawasan hutan produksi yang berdampak pada tanaman kopi. Berkurangnya naungan menyebabkan sebagian tanaman rusak hingga mati dan memengaruhi produktivitas.

Ke depan, petani berharap dukungan pemerintah tidak hanya dalam pemasaran, tetapi juga pembangunan infrastruktur penunjang. ”Harapan kami akses jalan menuju kebun dan ketersediaan jaringan air ke lahan bisa lebih merata, sehingga produktivitas petani semakin meningkat,” kata Luluk.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, prospek kopi Trawas dinilai sangat menjanjikan. Selain telah dipasarkan hingga luar Pulau Jawa melalui penjualan daring maupun pembeli yang datang langsung ke lokasi, peluang ekspor juga terbuka lebar apabila kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan. (fen/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
coffea Bumi Majapahit kopi mojokerto kopi trawas