”Inovasi yang berhasil bukan selalu yang paling canggih, tetapi yang mampu meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan menciptakan nilai ekonomi baru.”
Muhammad Dani Ramdhan
Komite Infrastruktur, Pengembang Kawasan Perumahan dan Investasi Kadin Kabupaten Mojokerto
DINAMIKA ekonomi global dan perkembangan teknologi menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi. Perusahaan yang mampu menggabungkan transformasi digital, inovasi bisnis, investasi pada sumber daya manusia (SDM), serta berkolaborasi dengan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai akan memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Pandangan itu disampaikan anggota Komite Infrastruktur, Pengembang Kawasan Perumahan dan Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Mojokerto Muhammad Dani Ramdhan. Menurut Dani, kunci keberhasilan perusahaan ke depan bukan hanya efisiensi, tetapi juga inovasi, kolaborasi, dan pengembangan SDM.
Mengutip studi Stanford University, lanjutnya, inovasi bertanggung jawab atas 85 persen dari seluruh pertumbuhan ekonomi. Artinya, melahirkan inovasi yang berkelanjutan sangat penting. Bentuknya antara lain bisa berupa transformasi digital, model bisnis, diversifikasi usaha, hingga peningkatan kualitas SDM.
”Inovasi yang berhasil bukan selalu yang paling canggih, tetapi yang mampu meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan menciptakan nilai ekonomi baru. Karena itu, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi seluruh sektor industri, mulai dari manufaktur, pertanian, jasa, hingga ekonomi digital,” tuturnya, kemarin (7/7).
Dani yang juga menjabat Koordinator Gugus Tugas Pengentasan Masalah Perizinan Kadin Kabupaten Mojokerto itu mengungkapkan, inovasi dapat memberikan dampak yang luas selama dilakukan secara konsisten. Di antaranya meningkatkan daya saing perusahaan, produktivitas, dan efisiensi operasional.
Selain itu memperluas pangsa pasar, termasuk pasar internasional, menciptakan lapangan kerja baru pada sektor teknologi dan ekonomi digital, meningkatkan kepercayaan investor, memperkuat ketahanan perusahaan saat menghadapi krisis ekonomi.
Kendati demikian, dirinya menyadari masih minim perusahaan yang melakukan inovasi teknologi yang memberikan manfaat pada konsumen, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan. ”Dewasa ini masih dikatakan minim, jika ada perusahaan tersebut adalah yang sudah go international. Ke depan kita sama-sama mendorong agar dunia usaha lebih mengedepankan hadirnya inovasi yang berdampak,” imbuhnya.
Dani berpandangan, kemampuan beradaptasi akan membuat perusahaan tetap eksis. Perusahaan yang adaptif, juga memiliki tata kelola yang baik akan lebih mampu bertahan dan siap menghadapi perubahan dibanding perusahaan yang hanya mengandalkan pola bisnis lama dan sekadar berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Di sisi lain, Dani menilai, kolaborasi perusahaan dengan UMKM yang merupakan penopang ekonomi nasional hingga saat ini akan menciptakan nilai tambah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. ”Kolaborasi antara industri manufaktur dan pelaku ekonomi kreatif mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, sehingga tidak hanya bersaing dari sisi harga, tetapi juga kualitas dan identitas merek,” tandasnya.
Melalui inovasi, kolaborasi, dan investasi pada SDM, Dani berkeyakinan perusahaan tidak hanya akan bertahan, melainkan juga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin minim. Khusus soal PHK karyawan, Kadin menempatkannya sebagai pilihan terakhir dalam mengatasi krisis perusahaan.
Menurutnya, terdapat setidaknya delapan langkah yang lebih efektif, antara lain meningkatkan produktivitas melalui pelatihan karyawan, reskilling dan upskilling agar karyawan siap mengisi kebutuhan baru, dan efisiensi operasional selain pengurangan tenaga kerja. Selanjutnya menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan bisnis, memperluas pasar dan menciptakan sumber pendapatan baru.
Kemudian meningkatkan kolaborasi dengan produk lokal untuk memperkuat rantai pasok daerah, membangun komunikasi yang terbuka antara manajemen dan pekerja, serta memanfaatkan insentif pemerintah untuk pelatihan, investasi, dan pengembangan SDM.
”Terakhir, melakukan komunikasi intensif untuk mencari solusi terbaik dengan menggandeng pemerintah, asosiasi industri, dan asosiasi pekerja dalam menentukan arah dan kebijakan, dan memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah melalui insentif investasi, kemudahan perizinan, dan percepatan pembangunan infrastruktur logistik,” urainya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah