PHRI Sebut Media Berperan Membangun Kepercayaan Publik
KABUPATEN - Transformasi digital hingga kolaborasi lintas sektor mau tak mau harus dilakukan para pelaku bisnis jasa pelayanan jika tidak ingin usahanya hancur di tengah fluktuasi ekonomi ekstrem seperti saat ini. Termasuk industri perhotelan atau resto yang dituntut kreatif agar tetap dilirik konsumen. Cara ini sekaligus untuk mempertahankan para pekerja dari ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK akibat minimnya okupansi yang terjual.
Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Mojokerto Satuin menegaskan, transformasi tidak sekadar mengalihkan pola pelayanan dari manual atau analog ke digital. Tapi, juga mampu mempromosikan model bisnis dalam bentuk virtual yang lebih atraktif dan interaktif. Sebab, konsumen hari ini cukup kritis.
’’Kalau tidak segera bertransformasi, ya pasti tutup. Sudah banyak bisnis perhotelan dan resto di Mojokerto yang tutup gara-gara tidak update. Termasuk upaya promosi juga lebih kreatif dengan memanfaatkan ruang virtual. Terbukti, 48 persen okupansi kamar hotel di Mojokerto didapat dari kolaborasi dengan layanan digital,’’ ungkapnya, kemarin (7/7).
Satuin mengungkapkan, perlu ada kolaborasi antarsektor agar iklim bisnis di bumi Majapahit terus tumbuh. Termasuk dengan perusahaan media sebagai ruang promosi efektif sekaligus tempat membangun eksistensi dan trust kepada konsumen. Tidak hanya itu, Satuin juga berharap peran vital pemerintah daerah dalam memberikan regulasi yang lebih fleksibel.
Khususnya perizinan yang selama ini dianggap merepotkan pelaku bisnis jasa pelayanan. ’’Kami mendukung ketertiban dan legalitas usaha. Namun, juga harus ada ruang yang lentur agar iklim bisnis tetap berjalan. Termasuk penegakan hukum bagi losmen atau penginapan yang tidak berizin, kami juga mendukung untuk ditertibkan,’’ tambahnya.
Dengan adanya transformasi dan kolaborasi, Satuin optimistis iklim usaha di Mojokerto semakin berkembang. Investasi baik dalam negeri maupun masupun asing juga terus mengalir, sehingga pertumbuhan ekonomi juga ikut terangkat. Dengan begitu, risiko PHK bisa ditekan.
Bahkan, lanjutnya, produktivitas dan skill pekerja di Mojokerto semakin meningkat jika operasional perusahaan stabil. ’’Maka dari itu, hubungan antara pekerja dengan perusahaan harus sama-sama saling menguntungkan. Manajemen harus memberikan reward dan punishment sesuai dengan produktivitas dan kualitas skill karyawan. Sebaliknya, karyawan juga harus bisa memberikan impact positif terhadap omzet maupun perusahaan,’’ pungkas Satuin. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah