Dinilai Memicu Kelangkaan BBM Subsidi Jenis Solar dan Pertalite
KABUPATEN - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan Pertalite di Mojokerto Raya masih terjadi. Sebagian SPBU bahkan mengeluhkan pasokan dan jatah pengiriman yang berkurang. Kondisi demikian ini diduga menjadi penyebab masih banyaknya antrean pengisian dan kekosongan BBM di SPBU.
Di SPBU Jalan Raya Jatipasar, Kecamatan Trowulan, misalnya, kemarin (27/6) hingga pukul 12.00 WIB stok solar atau Biosolar dan Pertalite terjual habis. SPBU di jalan arteri Jombang-Mojokerto ini praktis hanya menjual BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Sehingga mau tidak mau, para pengendara, mobil pribadi atau sepeda motor, terpaksa membeli BBM dengan harga lebih mahal tersebut.
Pengawas SPBU Jatipasar, Kecamatan Trowulan Nando Voreno mengatakan, stok solar diketahui habis sejak Jumat (26/6) pukul 08.00 WIB. ’’Pasokan solar subsidi itu terakhir kali datang dari Depo Pertamina Surabaya pada Kamis (25/6) sekitar pukul 05.00 WIB, sebanyak 8.000 liter,’’ ujarnya.
Sedangkan untuk jenis Pertalite tercatat dalam tangki penyimpanan BBM mengalami kekosongan kemarin (27/6) sekitar pukul 09.00 WIB. ’’Pasokan terakhir kali datang pada Kamis (25/6) sebanyak 16.000 liter. Sampai siang ini (kemarin, Red) belum jelas kapan bensin subsidi itu kembali dikirim oleh Pertamina Patra Niaga,’’ paparnya.
Ia juga mengeluhkan pengiriman solar dan Pertalite dari Depo Pertamina Surabaya. Menyusul, sejak pekan ini terjadi beberapa kali keterlambatan. Padahal, lanjutnya, ketika dalam kondisi normal, jika hari ini dilakukan pemesanan keesokan harinya pengiriman sudah tiba di SPBU.
Ia mencontohkan, saat SPBU mengajukan pesanan 16 kL (kiloliter) kedatangan pengiriman selalu tepat waktu dan sesuai dengan jumlah permintaan. Namun, kondisi tersebut berbeda dari biasanya, bahkan volume pengiriman solar berkurang sekitar 50 persen dari pesanan. ’’Mulai awal minggu ini, solar hanya dikirim 8 kL, itupun tidak tepat waktu. Pesannya Selasa, baru datang Kamis pagi,’’ ungkapnya.
Sejatinya, jatah solar bulan ini untuk SPBU Jatipasar mencapai 48.000 liter, dan saat ini masih tersisa sekitar 16.000 liter. M Sedangkan untuk Pertalite masih tersisa 24.000 dari 215.000 liter.
Atas kondisi tersebut, Nando menyatakan, sejauh ini SPBU tidak menerima pemberitahuan dari Pertamina Patra Niaga terkait penyebab tersendatnya pasokan BBM subsidi tersebut. Sehingga saat mobil pribadi maupun sepeda motor yangmengisi BBM di SPBU Jatipasar, terpakai beralih ke jenis Pertamax. Kendati harganya jauh lebih mahal Rp 16.250 ribu per liter, ketimbang Pertalite Rp 10 ribu per liter. ’’Ketika Pertalite kosong, penjualan Pertamax rata-rata 3.000 liter dari biasanya 1.000 liter per hari,’’ imbuhnya.
Di SPBU Jalan Raya Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Pertalite juga terpantau habis sejak sekitar pukul 11.30 WIB. Yang tampak hanya barisan truk mengantre untuk mengisi solar subsidi. Kelangkaan solar ini pun memicu antrean di SPBU.
Antrean truk juga terjadi di SPBU Jampirogo, Jalan Raya Bypass Mojokerto. Terlebih, SPBU ini sekadar menerima pasokan 8.000 liter solar subsidi sekitar pukul 06.00 WIB. Akan tetapi, berbeda dengan SPBU Jatipasar, pasokan solar dan Pertalite di SPBU Jampirogo ini justru datang tepat waktu. Di samping itu, volume pengiriman Pertalite tidak mengalami pengurangan dari 16.000 liter.
’’Sampai pukul 12.30 WIB, stok solar kami masih 6.000 liter,’’ terang DS, pegawai SPBU Jampirogo. Ia menegaskan, memang, saat ini, SPBU telah memesan 16 kL, namun pengiriman dari Pertamina hanya 8 kL, alias separuh dari total order. ’’Belum ada informasi apakah memang ada pengurangan atau tidak,’’ tandas DS. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah