KABUPATEN - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini tembus Rp17.985 berdampak banyak pada masyarakat. Tak terkecuali bagi perajin tempe yang bergantung pada kedelai impor. Mereka memilih memperkecil ukuran untuk menyiasati lonjakan biaya produksi.
Seperti yang dilakukan Misayatin, perajin tempe di Dusun Gedang Klutuk, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Ia memilih tidak menaikkan harga tempe melainkan melakukan penyesuaian ukuran produk agar tetap terjangkau pelanggan. ’’Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, kami kurangi ukurannya,’’ ungkapnya, kemarin (25/6).
Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor saat ini jadi persoalan besar bagi para perajin tempe. Sebab, sebelumnya harga kedelai di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kilogram, kini menginjak di angka Rp11.500 per kilogram. ’’Kenaikan cukup tinggi. Sekarang sudah Rp11.500 per kilogram,’’ sebut perempuan paruh baya ini.
Ia menguraikan, ada beberapa jenis yang diproduksi usaha rumahan yang dirintis sejak 47 tahun lalu ini. Mulai dari tempe jenis kapas maupun iris. Saat ini seluruhnya dijual seharga Rp 4 ribu per bungkus dengan ukuran tempe sekitar 5x18 cm dan tebal 5 cm.
Misayatin menyebut, langkah ini sekaligus upaya mempertahankan usaha kecil miliknya tetap beroperasi. Sebab, dampak kenaikan harga bahan baku sangat berpengaruh terhadap omzet usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarganya. ’’Kalau dulu sebelum harga kedelai naik, omzetnya minimal Rp 500 ribu sehari. Sekarang sudah tidak sampai segitu,’’ keluhnya.
Di tengah tingginya harga bahan baku produksi tempe, Misayatin berharap kondisi pasar segera membaik agar pelaku UMKM bisa terus bertahan dan berkembang. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah