Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bahan Impor Sulit, Perajin Sepatu Sekolah di Mojokerto Naikkan Harga 8 Persen

Farisma Romawan • Senin, 22 Juni 2026 | 04:07 WIB
MASIH OPTIMIS: Doni Budi Setiawan menunjukkan sepatu sekolah yang ia produksi sebelum dipasarkan ke luar pulau. (Farisma JPRM)
MASIH OPTIMIS: Doni Budi Setiawan menunjukkan sepatu sekolah yang ia produksi sebelum dipasarkan ke luar pulau. (Farisma JPRM) 

TAHUN ajaran baru selalu menjadi musim panen yang selalu dinanti para perajin sepatu di Mojokerto. Akan tetapi, melemahnya rupiah dua bulan terakhir justru menempatkan mereka dalam persimpangan. Apakah harus menaikkan harga jual agar tidak buntung, atau justru bertahan agar pelanggan tak murung. Sebab, tidak dipungkiri para perajin masih mengandalkan pesanan offline ketimbang online. Khususnya jelang tahun ajaran baru sebagai high season-nya para perajin sepatu sekolah.

Sejak Mei lalu, jumlah orderan sepatu semakin bertambah dari hari ke hari. Seperti yang dirasakan Tutik Wahyuni, perajin sepatu sekolah asal Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon. Ia mengaku mendapat pesanan hingga 25 kodi setiap minggunya. Jumlah tersebut sudah meningkat 25 persen dari hari normal yang biasa memproduksi 20 kodi per minggu.

Meski demikian, peningkatan tersebut terbilang cukup jauh jika dibandingkan musim sebelumnya atau saat rupiah masih stabil di angka Rp 15 ribu per dolar. Yang mana, ia bisa mendapat order hingga 50 kodi setiap pekan. ’’Kalau normal biasanya 1 minggu 20 kodi. Sedangkan saat musiman, bisa tiga kali lipat. Tapi dengan ekonomi yang turun hanya naik 5 persen dari biasanya,’’ terangnya.

Akan tetapi, kenaikan tersebut juga dibarengi dengan tingginya harga bahan baku. Alhasil, Ketua Ranting Muslimat NU Blooto ini juga harus menaikkan harga jual barangnya, dari Rp 400 ribu per kodi, menjadi Rp 430 per kodi. ’’Kalau tidak naik, ongkos produksi kami tidak bisa tertutup. ya harus memberikan penjelasan yang terang ke pemesan,’’ tambahnya.

Kenaikan pesanan pesat juga dirasakan Doni Budi Setiawan pemilik usaha produksi sepatu sekolah di Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko yang ordernya meningkat hingga 75 persen. Yang mana, setiap hari ia dituntut mampu memproduksi hingga 8.400 pasang sepatu sekolah mulai ukuran 25 hingga 42. Sebagian besar pesanan datang dari kota besar dan luar pulau, Seperti Jakarta, Medan, Pontianak, hingga Makasar.

TETAP TERSENYUM: Mar’atus Sholikhah, membereskan produksi sepatunya sebelum diambil customer untuk dipasarkan ke siswa di tahun ajaran baru 2026-2027. (Farisma JPRM)
TETAP TERSENYUM: Mar’atus Sholikhah, membereskan produksi sepatunya sebelum diambil customer untuk dipasarkan ke siswa di tahun ajaran baru 2026-2027. (Farisma JPRM)

 

’’High season tahun ajaran baru sudah sejak bulan dua (Februari) lalu sampai nanti bulan Juli. Dan akhir Agustus nanti untuk mengisi stok toko. Kalau hari normal, mungkin cuman 4.800 pasang,’’ ungkapnya.

Meski orderan meningkat, namun Doni, sapaan akrabnya dihadapkan pada situasi sulit. Yakni kenaikan harga bahan baku mulai dari outsol hingga upper akibat dollar naik dan rupiah melemah. Kenaikan bisa sampai 15 persen dari harga normal. Akibatnya, ongkos produksi juga ikut naik. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi customer belum bisa ditebak. Hal ini yang menjadi simalakama, harus menaikkan harga jual tapi tidak membebani customer.

Alhasil, Doni tetap menaikkan harga jual namun maksimal hanya Rp 35 ribu per lusin atau setara 8 persen dari harga normal. Atau dari yang sebelumnya dipatok Rp 430 ribu, menjadi Rp 465 ribu perlusin. ’’Harga jual mulai dari Rp 400 ribu sampai Rp 520 perlusin, tergantung model dan bahan. Tidak berani menaikkan sampai 15 persen, takutnya pemesan lari,’’ tambahnya.

Untuk menjaga cashflow usahanya terus jalan, Kepala Desa Jampirogo ini juga menjalin kerja sama dengan pelaku digital marketing atau usaha online. Ritme putaran uang di jasa online dinilai cukup cepat ketimbang offline. Hanya saja, tekanan yang diberikan juga cukup tinggi, khususnya soal stok barang yang kurang dari 3 hari sejak order.

Tekanan ini yang juga menjadi dilema tersendiri baginya Doni. Sebab, ia harus bisa memproduksi sepatu dengan waktu yang relatif singkat. Akan tetapi, bahan baku tidak banyak tersedia. Khususnya beberapa bahan upper yang harus impor namun sulit dicari. ’’Bahan sepatu juga sulit dicari. Importir juga tidak berani mendatangkan bahan dari luar negeri karena dollar masih tinggi,’’ pungkasnya. (far/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#sepatu mojokerto #brand sepatu #brand mojokerto