Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Terdampak Cuaca Ekstrem, Mayoritas Hasil Panen Cabai di Mojokerto Merosot

Yulianto Adi Nugroho • Senin, 27 April 2026 | 09:15 WIB
PRODUKSI MENURUN: Petani cabai di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, sedang panen masa petik ke-11, pekan lalu. (Adi JPRM)
PRODUKSI MENURUN: Petani cabai di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, sedang panen masa petik ke-11, pekan lalu. (Adi JPRM)

 

Dorong Petani Pakai Pupuk Organik

KABUPATEN - Penurunan hasil panen cabai akibat serangan hama dialami mayoritas petani di Kabupaten Mojokerto pada akhir masa panen kali ini. Kondisi tersebut terjadi karena faktor cuaca ekstrem yang memicu tanaman mudah terserang penyakit. Sebagai langkah antisipasi, petani kini didorong beralih menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Fatkurrohman mengatakan, merosotnya hasil panen tak hanya dialami petani di wilayah Kecamatan Dawarblandong. Kondisi ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Mojokerto. ’’Mayoritas produksi cabai menurun karena cuaca ekstrem,’’ ujarnya, kemarin (26/4).

Cuaca ekstrem yang dimaksud, yakni kondisi panas terik pada siang hari dan hujan deras pada malam hari. Situasi yang berlangsung selama berbulan-bulan ini menyebabkan pertumbuhan cabai terganggu. Selain itu, risiko serangan jamur patek (antraknosa) dan busuk batang meningkat saat tanaman sudah mulai tua seperti saat ini. ’’Kondisi tanaman sudah tua umur 3-4 bulan, otomatis ketahanan fisiknya menurun, jadi mudah terserang bakteri dan jamur,’’ tuturnya.

Menurut Fatkur, proses panen cabai saat ini sudah memasuki masa akhir. Mengingat masa tanam cabai yang berlangsung November dan Desember tahun lalu, kini usia tanaman hampir 6 bulan sehingga produksi buahnya mulai habis. ’’Setelah ini biasanya petani ganti tanam jagung,’’ imbuh dia.

Sebagai bentuk antisipasi supaya hasil panen terjaga pada musim tanam selanjutnya, Fatkur kembali mengajak petani untuk menjaga kesuburan tanah. Dirinya mendorong supaya petani meninggalkan pupuk dan pestisida kimia karena merusak kualitas tanah dan mengerus unsur hara. Petani diharapkan beralih menggunakan bahan bio-organik agar tanah tetap subur. ’’Karena kondisi tanah yang baik sangat menentukan hasil panen, ketahanan tanaman dengan cuaca ekstrem saat ini lemah salah satunya karena tanahnya kurang sehat,’’ tandanya.

Sebelumnya, serangan hama patek dan busuk buah menyebabkan hasil panen petani di Kecamatan Dawarblandong yang merupakan salah satu sentra penghasil cabai merosot. Kualitas cabai yang turun turut memengaruhi rendahnya permintaan sehingga harga cabai di pasaran juga melorot. ’’Yang punya lahan luas biasanya bisa panen 2 kuintal, sekarang hanya 90-120 kilogram karena antraknosa dan busuk batang,’’ ucap Joko Wijanarko, petani di Desa Sumberwuluh, Rabu (22/4). (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#panen cabai mojokerto #cabai mojokerto #cuaca ekstrem